Informasi tentang PVC (Polyvinyl Chloride, Polivinil Klorida) (Bahasa Indonesia)

Korban Dalam Dialog Peradaban tentang Sustainability?
22 Juni 2009, 11:04 am
Filed under: Isu Kesehatan, Isu Lingkungan Hidup

Berikut ini sebuah artikel menarik sebagai bahan renungan tentang wacana sustainability (Mohon maaf, artikel ini masih dalam bahasa aslinya). Artikel diikuti dengan sebuah komentar dalam bahasa Indonesia.

———— awal artikel ——–

When It Comes to Servers. Is Lead Really So Bad?

“I met a guy on a plane last month who has a career testing electronic components for the military and aerospace and setting standards for reliability. He told me about the new European Union’s Restriction of Hazardous Substances (ROHS) standard, which contains provisions outlawing lead in motherboards and a host of commercial and consumer electronic equipment. All very high sounding — lead is poisonous, protecting the individual, and so on. Yet the replacement of lead with pure tin directly is not without its own problems: It leads to much higher incidences of unreliability.

In what way? how about shorting out the entire motherboard? How about frying the hardware in one fell swoop? Or maybe just those annoying little hardware bugs you can’t explain.

For an interesting demonstration of tin degrading in the span of one day, take a look at this video on YouTube.
But it gets even worse, tin forms tiny whiskers that grow over time — sometimes starting after a day, sometimes after many years — and these eventually trigger a short circuit in electronics. This isn’t a one-off.
It is a well-known phenomenon that has been documented since the 1940s. A team at the University of Maryland has been studying tin whiskers and tin degradation for years.

Now this could well have happened inside your server, blade or laptop that failed unexpectedly. I had a brand new Dell laptop a couple of years back, and the motherboard shut down all of a sudden. Nobody could
explain the failure other than the generality of a faulty motherboard.
But for the past few years, most computer electronics have had lead-free solder. Pure tin solder has gone from nowhere to a majority share in just a few years. And unreliability might be the price we have to pay.

It might be coincidence, but blade enclosures are designed so that WHEN a failure happens, one blade is always spare as a failover (i.e., the system is now engineered for the expected unreliability). While failover itself isn’t a bad idea, when did we decide to accept failure as a fact of life? If it seems distinctly un-American, it is. It’s a European concept: Who cares if your cell phone dies or your laptop fries or your server shuts down — it’s good for the environment. Amazing what a group of suits will do when you lock them in a room and try to reach a consensus.

The guy on the plane was very worried about how this ROHS tin/lead standard had rolled across the planet and was making its way into aerospace. He told eerie tales of entire satellites failing in orbit, space shuttle components that keep failing and more. All in the name of green IT. Shocking!

(For the scarier side and a mini-briefing on tin whiskers, see five one-minute videos.)

To make matters worse, some parts of the world are adding metal bismuth into the solder mix as a solution. If you leave a tiny trace of lead in it, however, you get cracks and disintegration. And of course, bismuth is far more harmful to the environment than lead. Other attempts at a solution using a variety of tin alloys have also been subject to tin whiskers. Coatings haven’t solved the issue, either. Bottom line: It’s one great unsolved problem.

Now let’s get some perspective on lead. The effects of lead poisoning are pretty horrific. It poisoned the Romans when they used it for plumbing. In effect, they were drinking a potent lead/water cocktail. So plumbing pipes now use copper, iron, steel and plastic. Lead-based paints were eliminated in the past couple of decades, too. Yet in my last two houses, built before the 1950s, lead-based paints were almost certainly used from top to bottom. Half the nation could well be in a similar predicament and most of Europe. If it’s so appallingly harmful, where is the lead poisoning pandemic?

Lead is actually a fairly common element and is found in nature in several forms. It really is hard to avoid. So what’s next — lead-free mountains? The point is that lead must be eliminated sensibly and in some areas — like electronics — it is not always a smart move. We are talking here about a tenth of a gram of lead per chip. Maybe a gram or so per motherboard. Is it so dangerous in those quantities that it is preferable to remove it and resulting in more hardware crashing? Let’s think about it in terms of carbon footprints or environmental footprints: a gram of lead on a motherboard vs. far more electronic components sent to the landfills of the world due to rampant unreliability?

NASA is terrified of the tin whisker problem. Type the term into the web site and take a read. Space Shuttle, space station, Hubble and satellite troubles galore are traceable to this problem. The military is refusing to adhere to lead-free solder. Yet both NASA and the military will feel the adverse effect of it, as they can’t control every single component because they have come to rely on commercial, off-the-shelf hardware so heavily. For the average IT department, though, all of the big server OEMs have moved over to lead-free solder. So get used to strange glitches, part replacement and general hardware havoc. It might be a good idea to really lean on your vendors for top-notch hardware replacement warranties before this becomes too big of a problem. ”

———— akhir artikel ——–

Sebuah Komentar:

How sustainable is “Sustainable”?

Wacana sustainability memang sedang populer sekarang ini. Popularitasnya hingga sampai peringkat dimana ‘sustainability’ menjadi cap yang memiliki nilai jual secara ekonomis langsung. Maka banyak perusahaan besar yang memiliki agenda untuk ‘menghijaukan’ produk-produknya. Tetapi masalahnya penilaian rating sustainability itu sebenarnya tidak sederhana dan memerlukan kajian yang memakan waktu cukup lama. Dan prinsip sustainability yang dirumuskan saat ini sebenarnya adalah suatu wacana yang sifatnya masih sangat umum dan bisa dibilang agak filosofis.
Salah satu prinsip sustainability adalah mengurangi bahan-bahan yang diekstraksi (diubah bentuknya dari bentuk alaminya menjadi bentuk lain, misalnya metal) dari perut bumi, khususnya diprioritaskan bahan-bahan yang memang telah terbukti berpotensi meracuni manusia. Prinsip semacam ini sifatnya masih sangat umum. Padahal di kehidupan nyata, resiko dapat dan harus dioptimasikan dengan fungsi khusus bahan tersebut.
Karena itu, masalah-masalah sudah dapat diperkirakan akan terjadi di tataran praktek penerapan prinsip-prinsip sustainability. Yaitu ketika perusahaan-perusahaan mengambil keputusan bisnis dengan menerapkan pertimbangan-pertimbangan sustainability yang tidak matang, atau bahkan hanya sekedar ikut-ikutan trend, terlebih dengan ikut trend tersebut nilai jual produknya terangkat.
Ketika keputusan-keputusan bisnis yang tidak matang semacam itu dilakukan, maka sudah bisa dipastikan akan ada korban:
1. Bisnis yang menghasilkan produk yang mengandung bahan-bahan yang dinilai ‘tidak sustainable’.
2. Konsumen, karena bahan-bahan alternatif yang ditawarkan pada umumnya lebih mahal dan mengakibatkan kualitas produk akhir menjadi lebih buruk. Siapa yang mau membayar lebih mahal untuk barang yang kualitasnya lebih buruk?

Dialog peradaban tentang penerapan prinsip-prinsip sustainability ini menjadi semakin rumit karena ada daftar panjang antrian bahan-bahan alternatif yang mengklaim dirinya sebagai bahan yang layak untuk menggantikan bahan yang selama ini dipakai (dan sialnya bahan yang selama ini kita pakai dan dianggap ‘berbahaya’ ini memang bahan yang selama ini sudah terbukti berfungsi dengan sangat baik dan sangat handal).

Dialog peradaban adalah suatu yang memang penting untuk dilakukan, tapi
dialog seringkali menjadi rumit dan bahkan terkadang brutal, sehingga seringkali malah menjadi kontra-produktif, bahkan ironisnya justru kemudian bisa menjadi berlawanan dengan tujuan mulia sustainability yang digagas pada awalnya, karena produk-produk alternatif yang ditawarkan biasanya adalah produk-produk yang belum banyak dikaji secara menyeluruh rating sustainability-nya, karena produk-produk tersebut umumnya memang masih baru dan belum ada record sustainability-nya untuk penggunaan dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi masalah yang harus kita jawab secepatnya adalah:
“How sustainable is ‘sustainable’?”
Dan bagaimana kita bisa mengkompromikan fungsi khusus suatu bahan dalam skema penghitungan rating sustainability bahan tersebut?



Sebuah Pengakuan untuk Pipa PVC
2 Juni 2009, 4:16 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Teknologi Pembuatan

Produk pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc untuk pertama-kalinya memperoleh penghargaan berupa masuknya produk ini ke dalam klasifikasi sebagai bahan yang “menarik secara ekologi” (“Ecologically Interesting”), menurut kajian yang dilakukan oleh Eco-Devis, suatu kelompok kerja di bawah organisasi lingkungan hidup Swiss Eco-Bau. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk harus melalui kajian-kajian menyeluruh yang meliputi kajian keramahannya terhadap lingkungan dan dampaknya terhadap lingkungan, mulai dari masa pemrosesan bahan bakunya hingga proses produksinya menjadi produk akhir.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

 Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc dinilai sebagai produk yang sangat ramah lingkungan, hal yang telah diakui oleh Eco-Devis dan juga the Swiss Health Authority. Kelompok Kerja Eco-Devis mengukur berbagai material bahan bangunan dari segi konsumsi energi yang dibutuhkan untuk memproduksinya, mulai dari konsep hingga proses produksinya. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk tidak boleh mengandung sedikitpun zat berbahaya dan produk tersebut harus memiliki cara pembuangan atau teknik daur ulang yang dapat diterima menurut standar-standar keramahan terhadap lingkungan.

Eco-Devis merupakan suatu badan yang terdiri dari organisasi public maupun swasta, yang diakui dan didukung oleh the Swiss Society of Engineers and Architects, yang memiliki misi untuk mempromosikan teknik-teknik konstruksi bangunan yang berwawasan lingkungan. Sistem klasifikasi yang dilakukan oleh organisasi ini menentukan tingkat keramahan bahan-bahan bangunan terhadap lingkungan, yang menjadi panduan bagi para arsitek, disainer, kontraktor, insinyur dan ahli bangunan dalam menentukan pilihan bahan bangunan untuk bangunan-bangunan baru yang mereka tangani, sehingga diharapkan mereka mampu secara sadar membuat keputusan yang berwawasan lingkungan dalam pekerjaan mereka. Sistem klasifikasi ini juga digunakan sebagai syarat-syarat khusus dalam melakukan pembelian bahan-bahan bangunan dalam proses konstruksi gedung-gedung milik publik maupun milik swasta.

Chris Welton, Kepala Divisi Komunikasi organisasi PlasticsEurope menyambut gembira pengakuan terhadap Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc ini: “Kami gembira keramahan pipa PVC terhadap lingkungan telah mendapat pengakuan dari suatu organisasi yang sangat terpercaya”.

Pengakuan ini bukan yang pertama didapat oleh produk PVC. Pada tahun 2007, jendela PVC menerima klasifikasi terhormat “Ecologically Interesting” dari Eco-Devis setelah dinilai memenuhi standar tinggi criteria keramahan terhadap lingkungan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut.


PVC: Aplikasi Medis untuk Kehidupan
2 Juni 2009, 11:10 am
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Kesehatan
Selang PVC untuk keselamatan hidup. Nutrisi dan cairan mencapai sistem pencernaan pasien melalui sistem selang PVC.

Selang PVC untuk keselamatan hidup. Nutrisi dan cairan mencapai sistem pencernaan pasien melalui sistem selang PVC.

Alat bantu pernafasan yang dapat diandalkan, kantung darah yang steril ataupun sarung tangan higienis sekali-pakai adalah beberapa contoh yang menjadikan produk peralatan medis dari bahan PVC sesuatu yang tak tergantikan dalam dunia medis selama 50 tahun terakhir.
Dikarenakan kompatibilitasnya yang luar biasa, para dokter juga merekomendasikan produk-produk yang terbuat dari PVC bagi orang-orang yang menderita berbagai jenis alergi. Melalui proses pengembangan produk yang inovatif, para produsen peralatan medis terus berusaha mengembangkan teknik-teknik terbaik untuk melayani aktivitas perawatan pasien.

Makan menjadikan tubuh dan fikiran sehat, disamping memang merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan bagi manusia. Akan tetapi orang yang sedang sakit seringkali mengalami gangguan dalam aktivitas makan. Ketika gangguan semacam ini terjadi pada seseorang, dia tidak mampu mencerna makanan dalam jumlah yang cukup melalui mekanisme yang biasa. Pada kondisi semacam ini, asupan sari makanan dari luar menjadi hal yang vital untuk dilakukan, dimana pasien menerima cukup energi dan nutrisi melalui makanan cair yang disalurkan ke saluran pencernaan. Satu kantong makanan cair mencukupi kebutuhan pasien untuk sehari penuh, sementara kandungan kalori dari makanan cair tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Sistem Suplai Nutrisi yang Dapat Diandalkan
Sebuah perusahaan Jerman Pfrimmer Nutricia GmbH yang bermarkas di Erlangen merupakan spesialis dalam bidang nutrisi medis yang menawarkan banyak pilihan produk minuman nutrisi maupun makanan cair, system aplikasinya serta selang dan pompa pendorong makanan cair ke dalam tubuh para pasien. Perusahaan ini mengembangkan produk peralatan medis Flocare yang berfungsi untuk mengatur dan mengalirkan zat nutrisi yang diperlukan bagi kelangsungan hidup pasien. Sistem ini mengalirkan makanan cair dari suatu kantong plastik ataupun botol gelas ke dalam tubuh pasien menggunakan gaya gravitasi ataupun pompa sebagai pendorong.

Sistem Aliran Menggunakan Selang
Nutrisi ditransportasikan melalui system selang yang terbuat dari bahan PVC yang lentur. Sebagai perusahaan pionir dalam bidang nutrisi medis, Pfrimmer Nutricia telah menawarkan bahan selang PVC yang menggunakan plasticizer Hexamoll DINCH dari BASF sejak tahun 2005 karena suatu alasan yang baik: substrat nutrisi mengandung lemak yang dapat melarutkan sebagian kecil plasticizer yang terkandung dalam bahan selang. Kecepatan migrasi plasticizer dari selang ke nutrisi cair tersebut adalah jauh lebih kecil bila menggunakan Hexamoll DINCH karena sifatnya yang memiliki kelarutan rendah dalam lemak.
“Dengan menggunakan Hexamoll DINCH, kami dapat mencapai standar yang lebih tinggi dalam bidang nutrisi medis”, kata Dagmar Dehler, Head of Public Health Care di Pfrimmer Nutricia. Pencapaian standar yang lebih tinggi ini telah dikonfirmasi melalui pengkajian teknologi aplikasi, test toksikologi dan juga rekomendasi dan serifikasi oleh institusi dan badan internasional. Singkatnya, Hexamoll DINCH adalah jenis plasticizer yang telah dikaji secara intensif dan diterima sebagai alternative terbaik saat ini untuk aplikasi yang memungkinkan kontak dengan manusia, seperti peralatan medis, pengemas makanan dan obat-obatan serta mainan anak-anak.


Experimen untuk Pelestarian Iklim
18 Maret 2009, 3:05 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan

Bagaimana kondisi arsitektur masa depan dengan kondisi semakin habisnya sumberdaya alam dan semakin terbatasnya sumberdaya energi? Pertanyaan ini bergaung di banyak perusahaan, dan telah mendorong mereka untuk mengembangkan solusi-solusi untuk mencapai suatu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Apakah yang dimaksud dengan pembangunan yang berkelanjutan itu? Yaitu pembangunan yang dilakukan tanpa mengurangi kualitas lingkungan hidup atau merusak pilar-pilar lingkungan hidup yang selama ini telah mendukung kehidupan umat manusia.

Beberapa produk pendukung arsitektur bangunan yang telah berkontribusi bagi pelestarian sumberdaya alam dan energi diantaranya adalah inovasi dalam bidang bahan-bahan kimia pendukung industri konstruksi, bahan-bahan isolasi panas dan jendela PVC yang meningkatkan efisiensi penggunaan energi di rumah dan bangunan-bangunan.

Suatu penelitian saat ini sedang berlangsung di kota Nottingham, Inggris, untuk mengkaji factor-faktor yang bisa mendukung penghematan energi dan pelestarian iklim global. Hasil penelitian ini kemungkinan akan sangat berpengaruh bagi konsep disain perumahan di masa datang.

Di kampus Universitas Nottingham, BASF bekerjasama dengan Departemen Arsitektur Universitas tersebut, telah membangun sebuah rumah dengan konsumsi energi yang rendah. Seperti kita tahu rumah-rumah di negara-negara yang mengalami musim dingin mengkonsumsi cukup banyak energi setiap tahunnya untuk pamanasan ruang-ruang dalam rumah tersebut.

"BASF house" atau "rumah 1,5 liter", model rumah masa depan untuk menjawab tantangan semakin terbatasnya sumberdaya alam dan energi
“BASF house” atau “rumah 1,5 liter”, model rumah masa depan untuk menjawab tantangan semakin terbatasnya sumberdaya alam dan energi

Penelitian tersebut merupakan bagian dari proyek riset yang ekstensif yang melibatkan beberapa mitra, dengan total 6 gedung yang khusus dibangun sebagai obyek eksperimen dengan menggunakan berbagai teknologi penghematan energi yang paling mutakhir. Keenam gedung yang masing-masing menawarkan solusi inovasi yang berbeda-beda itu akan menjalani uji coba yang ekstensif. Gedung-gedung tersebut membutuhkan energi sekitar 12,5 kWh/m2 per tahun, atau bisa juga disebut sebagai “rumah 1,5 liter”, berdasarkan jumlah konsumsi BBM per meter persegi per tahunnya.


”Rumah 1,5 liter” tersebut dibangun menggunakan bahan-bahan hasil inovasi BASF yang merupakan perusahaan kimia terbesar di dunia. Diantara inovasi tersebut adalah bahan-bahan baru yang memungkinkan rumah-rumah tersebut ter-insulasi dengan baik. Kunci keistimewaan “rumah 1,5 liter” terletak pada kombinasi penggunaan berbagai teknologi penghemat energi, termasuk system jendela PVC yang saat ini sedang naik daun di Eropa karena telah terbukti mampu memberikan penghematan energi yang sangat berarti.


Penghematan energi, harga yang lebih terjangkau dan kontribusi bagi pelestarian lingkungan adalah faktor yang menjadikan jendela PVC semakin poluler

Penghematan energi, harga yang lebih terjangkau dan kontribusi bagi pelestarian lingkungan adalah faktor yang menjadikan jendela PVC semakin poluler


Ruang-ruang dalam profil jendela PVC diisi dengan busa keras polystyrene untuk mendapatkan efek insulasi suhu yang ideal

Ruang-ruang dalam profil jendela PVC diisi dengan busa keras polystyrene untuk mendapatkan efek insulasi suhu yang ideal



Daur Ulang Bahan Plastik
27 Juni 2008, 3:12 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Umum

Pernahkah anda memperhatikan adanya simbol-simbol ini pada pengemas yang terbuat dari bahan plastik? Apakah makna dan tujuan dari dicantumkannya simbol-simbol tersebut?

Simbol segitiga dengan arah panah berputar merupakan symbol dari aktivitas daur ulang. Ini juga menyiratkan bahwa bahan-bahan plastik dapat di daur ulang. Sementara angka dan kata yang ada di dalam atau dibawah symbol segitiga tersebut adalah merupakan kode untuk mengidentifikasi jenis bahan plastik yang digunakan pada bahan pengemas tersebut. Terkadang kode indentifikasi yang digunakan berupa angka saja (1-7), dan terkadang berupa kata saja (PET atau PETE, HDPE, PVC atau V, LDPE, PP, PS, OTHER).

Apapun kode yang digunakan, masyarakat umum tetap memerlukan penjelasan mengenai makna kode-kode tersebut.

Berikut ini adalah arti dari kode daur ulang bahan plastik:


“1” atau “PET” atau “PETE” adalah kode untuk bahan Poly Ethylene Terephthalate.

“2” atau “HDPE” adalah kode untuk bahan High Density Poly Ethylene.

“3” atau “V” atau “PVC” adalah kode untuk bahan Poly Vinyl Chlorida.

“4” atau “LDPE” adalah kode untuk bahan Low Density Poly Ethylene.

“5” atau “PP” adalah kode untuk bahan Poly Propylene.

“6” atau “PS” adalah kode untuk bahan Poly Styrene.

“7” atau “OTHER” adalah kode untuk bahan plastik jenis selain itu, seperti Poly Carbonate, Poly Methyl Methacrylate, dan lain-lain.


Seperti kita ketahui, aktivitas daur ulang sampah rumah tangga di Indonesia belum dikelola dengan efisien. Proses pengelolaan daur ulang sampah rumah tangga harus di mulai di rumah-rumah, yaitu tempat dimana sampah-sampah tersebut mula-mula dihasilkan, dan di tahapan inilah sebenarnya efisiensi keseluruhan proses daur ulang sampah domestik ditentukan. Idealnya, di rumah-rumah, sampah-sampah sudah dipisah-pisahkan menurut jenisnya, biasanya dibagi menurut kategori ”sampah basah” dan ”sampah kering”. Sampah basah adalah sampah organik sisa-sisa makanan, sementara sampah kering biasanya dipisah-pisahkan lagi menjadi ”gelas dan plastik”, ”kaleng/aluminium”, dan ”kertas”.

Mengapa sampah perlu dipisah-pisahkan sedemikian rupa? Alasan utamanya adalah agar sampah yang masih bisa didaur ulang itu tidak rusak sifat-sifatnya. Sebagai contoh, jika sampah plastik yang bersih tercampur dengan sampah basah yang berupa sisa-sisa makanan, maka diperlukan usaha-usaha untuk membersihkan plastik tersebut dari kotoran berminyak dari sisa -sisa makanan dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Jika plastik yang berminyak dan bercampur dengan sedikit sisa makanan itu dicoba diproses kembali menjadi barang baru dengan menggunakan mesin pemroses plastik, maka sifat produk plastik yang dihasilkan akan menjadi jauh lebih buruk karena adanya kontaminasi dengan bahan-bahan lain (kotoran).

Aktivitas daur ulang atas sebagian dari sampah rumah tangga sebenarnya sudah berlangsung selama ini, yang dimungkinkan karena adanya nilai ekonomi dari sebagian komponen dalam sampah rumah tangga, misalnya botol-botol plastik, besi, kayu dan gelas. Tapi sebenarnya masih banyak lagi komponen sampah yang bisa di daur ulang, jika saja aktivitas daur ulang tersebut dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Aktivitas semacam ini memerlukan dukungan segenap masyarakat dan terutama campur tangan pemerintah.


Di Jepang, misalnya, daur ulang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh rakyat, lengkap dengan undang-undang yang disetujui lembaga DPRD disana, yaitu UU Pengumpulan Sampah Terpilah dan Daur Ulang Kaleng dan Kemasan (1997). Mengingat masalah penanganan sampah kita yang kurang baik dan sudah seringkali menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, maka adanya inisiatif Pemerintah dan masyarakat untuk menggiatkan aktivitas daur ulang yang didukung dengan adanya undang-undang tentang pengelolaan sampah dan daur ulang sebenarnya sudah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak saat ini.


Bahan plastik yang sebenarnya hingga saat ini telah memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, pada akhirnya malah dibebani citra buruk ”tidak ramah lingkungan” karena bertebarannya sampah plastik dimana-mana. Sampah-sampah plastik yang bertebaran ini termasuk dalam kategori sampah plastik yang sudah terkontaminasi oleh kotoran, sehingga mempersulit (mempermahal biaya) proses daur ulangnya, sehingga menjadikannya tidak ekonomis untuk didaur ulang. Jika saja dilakukan pemisahan atas sampah di rumah-rumah, maka jenis sampah yang terkontaminasi kotoran semacam ini akan dapat dikurangi secara drastis. Sehingga sebagian besar sampah plastik akan dapat dengan mudah di daur ulang. Sebenarnya ini adalah tanggungjawab seluruh masyarakat untuk mengelola sampah-sampah plastik tersebut, karena daur ulang tidak mungkin dilakukan tanpa kerjasama yang baik oleh masyarakat. Ada sementara pihak yang mengusulkan pengurangan penggunaan bahan plastik sebagai suatu solusi bagi masalah yang ditimbulkan oleh sampah plastik. Sebenarnya solusi semacam itu tidak menyentuh akar dari permasalahan yang sesungguhnya. Jika kita amati, tingkat konsumsi bahan plastik perkapita di suatu negara adalah sebanding dengan pendapatan perkapita negara tersebut. Artinya dengan semakin majunya suatu negara maka otomatis tingkat konsumsi bahan plastik akan meningkat, karena bahan plastik adalah kebutuhan dasar masyarakat modern yang telah menyumbang pada perbaikan tingkat kesehatan, higienis, kemudahan dan kenyamanan hidup masyarakat. Tingkat konsumsi plastik  PVC  di Indonesia pertahun saat ini adalah 1,45 kg per kapita (data tahun 2007), hanya sedikit lebih tinggi dibanding negara-negara miskin di Afrika. Angka ini masih 4 kali lebih rendah dari Thailand (5,97 kg per kapita) dan 7 kali lebih rendah dibandingkan Malaysia (10,4 kg per kapita) (data tahun 2004). Dan tingkat konsumsi plastik PVC tertinggi adalah di Eropa Barat (14,1 kg per kapita) dan Amerika Serikat (15,5 kg per kapita) (data tahun 2004). Sementara tingkat konsumsi plastik jenis lain di negara-negara tersebut kurang lebih proporsional dengan tingkat konsumsi PVC tersebut.

Mengurangi konsumsi plastik berarti membawa kita setingkat atau bahkan lebih rendah dari negara-negara miskin di Afrika. Sementara itu negara-negara Eropa mampu ”berdamai” dengan tingkat konsumsi plastik yang begitu tinggi (14,1 kg per kapita) disebabkan karena proses daur ulang plastik telah dilakukan secara intensif di negara-negara tersebut, sehingga sampah plastik tidak menjadi masalah. Di negara-negara dengan tingkat daur ulang plastik yang baik, bahan plastik justru menjadi sahabat masyarakat karena telah diakui luas manfaatnya selama ini.



Logo Daur Ulang Plastik
27 Juni 2008, 2:03 pm
Filed under: Isu Kesehatan

Menanggapi tulisan yang ditayangkan di:

Berikut ini sedikit komentar dan ulasan.

Simbol-simbol yang ditampilkan diartikel tersebut sebenar-benarnya adalah untuk kepentingan proses daur ulang bahan-bahan tersebut, dan bukan untuk mendiskriminasikan beberapa jenis plastik dibanding yang lainnya. Jadi saya kurang setuju dengan semangat yang tersirat dalam artikel tersebut. Pada bentuk aslinya, simbol-simbol tersebut memiliki warna yang sama. Dan pada kenyataannya, masing-masing bahan ini telah banyak menyumbangkan perbaikan bagi kondisi hidup manusia selama beberapa dekade terakhir.

Sebenarnya popularitas bahan plastik secara umum disebabkan karena sifatnya yang cocok utk banyak aplikasi dan ekonomis. Kita ambil contoh, pipa plastik PVC misalnya, sudah lama menggantikan banyak porsi yang dulu ditempati pipa besi. Selain memenuhi standar kekuatan utk banyak aplikasi pipa, PVC juga jauh lebih murah, proses produksinya lebih bersih (polusi minimal), beratnya yang ringan juga menghemat ongkos transportasi, menghemat konsumsi BBM serta mengurangi emisi gas buang selama transportasi. Singkatnya, jauh lebih ramah terhadap lingkungan.

Masalah isu-isu bahwa bahan plastik mengandung racun, sebaiknya kita berhati-hati menyebarkannya. Masalah kandungan bahan plastik itu sudah lama diatur dalam regulasi di banyak negara. Di Amerika ada FDA, di Uni Eropa ada EU Directives yang mengatur apa kandungan yang dibolehkan ada dalam plastik dan dalam jumlah berapa banyak. Belum lagi berbagai inisiatif dari pihak industri maupun pemerintah, seperti REACH, RoHS dan lain-lain yang berusaha melindungi masyarakat umum dari kemungkinan paparan zat-zat yang dapat mengganggu kesehatan manusia.

Seperti kita tahu dalam ilmu toksikologi, kita bukan hanya berbicara tentang potensi bahaya dari suatu zat, tapi harus juga menyebutkan suatu jumlah kandungan/paparan maksimum yang bisa ditolerir dan dijamin keamanannya bagi kesehatan manusia. Karena, kandungan/paparan yang sangat rendah dapat menjadikan zat apapun menjadi tidak beresiko terhadap kesehatan manusia. Sebaliknya bahan yang umum dikonsumsi seperti gula dan garam, jika dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak akan dapat membahayakan kesehatan manusia. Di internet bahkan banyak pihak yang mengkampanyekan agar orang tidak mengkonsumsi gula, karena konsumsi gula berlebihan telah terbukti mampu membunuh banyak manusia secara perlahan, melalui berbagai penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi gula yang berlebihan.

Jadi jika kita meributkan zat-zat yang terkandung dalam plastik dan menganggapnya berbahaya bagi kesehatan, tanpa menyinggung-nyinggung standar yang berlaku secara internasional, maka kita sebenarnya telah mementahkan kembali studi intensif yang sudah puluhan tahun berlangsung tentang keamanan penggunaan bahan-bahan aditif dalam plastik atau sisa-sisa bahan baku yang masih tersisa di dalam plastik. Sebenarnya sumbangan bahan plastik kepada umat manusia tidak sedikit, bahkan berjasa memperbaiki tingkat higienis dan kesehatan manusia. Pembungkus plastik, misalnya, jika dibandingkan dengan daun pisang yg rawan kontaminasi, atau bahan-bahan pembungkus tradisional lainnya yang rawan kontaminasi, telah berjasa membuat manusia lebih sehat. Dengan jasa pembungkus plastik juga makanan bisa disimpan dan diawetkan lebih lama, jika tidak akan lebih banyak krisis pangan karena kesulitan dalam pendistribusian makanan ke tempat-tempat yang jauh. Pipa air plastik itu sangat tahan lama, bahkan ada yang sudah berusia 40 tahun masih berfungsi sampai sekarang. Sangat tahan lama, tidak berkarat, tidak ada resiko masuknya kontaminasi ke air bersih karena kekuatannya yang baik dan tidak berkarat sehingga tidak bocor dan terbukti selama 40 tahun bisa melayani masyarakat. Sebenarnya karena sumbangan-sumbangan seperti inilah tingkat pengharapan hidup manusia makin panjang. Manusia sekarang kan sudah jauh lebih sehat dibanding zaman dulu.

Seperti kita tahu, industri bahan plastik adalah industri global yang mata rantainya (pembelian bahan baku dan penjualan produknya) saling berhubungan secara global dan yang terikat dengan trend global ttg keamanan penggunaan aditif-aditif yang digunakan.

Akhirnya, kemajuan peradaban selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah dihasilkan sebelumnya. Jika kita berusaha membangun sesuatu tanpa merujuk pada pengetahuan/penelitian ilmiah yang sudah dilakukan, saya khawatir kita justru menuju pada kemunduran, bukannya kemajuan.




Tanya Jawab tentang Phthalate
16 Oktober 2007, 9:50 am
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Kesehatan


Apakah phthalate itu?


Phthalate adalah sekelompok zat yang banyak digunakan dalam produk sehari-hari. Phthalate tidak berwarna, kekentalannya mirip minyak goreng, sedikit atau tanpa bau serta tidak mudah menguap.



Apa saja kegunaan phthalate?


Sekitar 12 jenis phthalate yang digunakan di seluruh dunia saat ini terkandung dalam ribuan jenis produk. Aplikasi utama dari phthalate adalah sebagai aditif yang berfungsi melunakkan PVC dan membuatnya menjadi fleksibel, tanpa mengorbankan kekuatan bahan PVC. Phthalate digunakan sebagai pelunak (plasticizer) dalam produk mainan anak-anak, mobil dan banyak produk-produk lain yang terdapat di rumah-rumah maupun di rumah sakit. Misalnya, phthalate merupakan aditif penting dalam pembuatan peralatan medis dari bahan PVC yang banyak manfaatnya dalam menyelamatkan jiwa manusia. Phthalate jenis yang lain banyak digunakan dalam formulasi parfum dan berbagai produk-produk perawatan kecantikan dengan fungsi untuk membuat keharumannya bertahan lebih lama. Phthalate jenis yang lain lagi berfungsi untuk mencegah rusaknya berbagai jenis lapisan coating pada berbagai jenis produk.



Apa kah phthalate aman digunakan?


Badan-badan pembuat kebijakan produk industri dan juga badan-badan independen telah menyimpulkan bahwa phthalate aman digunakan sebagai plasticizer PVC dan dalam produk-produk perawatan kecantikan. Tidak pernah ada bukti terpercaya yang menunjukkan bahwa phthalate pernah  membawa kerugian kepada manusia selama sejarah penggunaannya yang sudah berjalan selama 50 tahun. Phthalate merupakan satu diantara beberapa jenis zat kimia yang paling banyak dipelajari, sehingga sangat banyak infomasi tentang zat ini yang tersedia bagi masyarakat umum berkenaan dengan keamanan penggunaan zat ini dalm kehidupan sehari-hari.



Siapa bilang phthalate aman digunakan?


Uni Eropa telah melakukan tinjauan extensif terhadap keamanan penggunaan phthalate dari jenis yang paling banyak digunakan saat ini. Mereka menemukan bahwa phthalate bukanlah zat yang patut dikhawatirkan menimbulkan resiko kesehatan bagi manusia dalam berbagai penggunaannya sejauh ini. Tinjauan tersebut secara spesifik juga mencakup penggunaan phthalate dalam mainan anak-anak dan dalam cat/pelapis kuku.

US Consumer Product Safety Commission juga menyimpulkan bahwa zat phthalat yang banyak digunakan dalam produk mainan anak-anak adalah tidak terbukti dapat menimbulkan resiko kesehatan pada anak-anak.



Saya dengar phthalate menyebabkan masalah kesehatan ketika diuji pada hewan percobaan?


Beberapa jenis phthalate (tidak semua) memang diketahui mengganggu sistem reproduksi tikus jantan ketika tikus tersebut mengkonsumsi phthalate dalam jumlah besar. Dosis ini jauh lebih besar dibanding yang mungkin masuk ke dalam tubuh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Efek negatif pada tikus ini tidak lah berarti hal tersebut juga akan terjadi pada manusia, karena tikus dan manusia memiliki metabolisme yang sangat berbeda. Ketika phthalate dipaparkan kepada hewan mamalia yang paling kecil (marmoset), ternyata samasekali tidak ada gangguan kesehatan yang ditemukan pada hewan tersebut, sedangkan metabolisme Marmoset lebih menyerupai metabolisme tubuh manusia.



Apa sebenarnya yang terjadi pada tikus yang mengkonsumsi phthalate tersebut?


Para peneliti meyakini bahwa pemaparan beberapa jenis phthalate dalam dosis yang extrem tinggi kepada tikus menyebabkan tertekannya produksi hormon testosterone yang dibutuhkan untuk perkembangan sistem reproduksi jantan.

Ada dua hal penting yang menyebabkan studi ini tidak relevan bagi manusia:

  1. Besarnya dosis phthalate yang menyebabkan gangguan sistem reproduksi pada tikus adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat paparan yang mungkin masuk ke tubuh manusia dari penggunaan produk sehari-hari.
  2. Terlebih lagi, hingga saat ini samasekali tidak ditemukan bukti-bukti bahwa mekanisme yang terjadi pada tikus juga terjadi pada manusia.



Apakah hal yang terjadi pada tikus bisa terjadi juga pada manusia?


Tidak ada bukti bahwa itu bisa terjadi pada manusia. Ada beberapa bukti bahwa hal itu tidak terjadi pada manusia. Sebuah studi dilakukan terhadap anak-anak yang mengalami kondisi kritis ketika baru dilahirkan sehingga harus menggunakan peralatan medis PVC yang mengandung phthalate dan karenanya anak-anak tersebut terpapar oleh phthalate dalam jumlah yang cukup besar. Studi tersebut mencatat bahwa kondisi anak-anak tersebut yang kini sudah mencapai usia remaja sangat sehat dan normal.



Apakah ada bukti-bukti bahwa phthalate tidak memberi efek buruk kepada manusia?


Test-test yang dilakukan terhadap marmoset, yang termasuk golongan primate seperti manusia, menyimpulkan bahwa bahkan dengan dosis yang sangat tinggi yang diberikan pada marmoset semenjak lahir hingga mencapai usia yang matang secara seksual (usia dimana semua organ reproduksinya sudah tumbuh sempurna) ternyata tidak menimbulkan efek apapun terhadap perkembangan organ-organ reproduksinya.

Sebuah studi yang lain menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat menyerap phthalate, sementara tikus-tikus sangat mudah menyerap phthalate. Manusia bias mencerna phthalate dan membuangnya segera melalui saluran pembuangan. Bukti-bukti ini menguatkan bahwa efek negative dari phthalate yang terjadi pada tikus tidak terjadi pada manusia,



Bukankah studi mutakhir menunjukkan bahwa phthalate mempengaruhi fungsi perkembangan seksual manusia?


The National Institutes of Health melalui “Program Toksikologi Nasional”-nya telah melakukan tinjauan terhadap semua studi yang mengklaim adanya efek phthalate terhadap manusia, dan pada akhir 2006 mereka menyatakan bahwa semua studi tersebut tidak menunjukkan cukup bukti untuk dapat disimpulkan secara benar.

Semua studi yang disebutkan diatas bersifat statistik, mereka mengklaim menemukan korelasi antara paparan phthalate dan dampak-dampak tertentu terhadap kesehatan manusia. Akan tetapi dalam studi tersebut banyak terjadi penyimpangan dan dalam kasus ini banyaknya penyimpangan membuat kesimpulan yang ditarik dari  studi tersebut sangat diragukan kebenarannya. Juga, tak ada satupun dari studi yang disebutkan diatas mengklaim bahwa phthalate menyebabkan efek negatif pada kesehatan manusia. Mereka hanya mengatakan bahwa phthalate secara statistik memiliki korelasi terhadap efek-efek tersebut. Korelasi-korelasi semacam itu sangat mungkin merupakan fluktuasi statistic belaka.



Apakah demikian juga dengan studi oleh Swan?


Yang pasti, banyak expert meragukan studi tersebut. Studi oleh Swan mengklaim bahwa ada terjadi perubahan (bukan kerusakan) pada perkembangan proses reproduksi bayi-bayi, yang diduga diakubatkan terpaparnya para ibu bayi oleh campuran dari 4 jenis phthalate. Dr.Rebecca Goldin, seorang Ph.D. bidang Matematika yang bekerja pada Statistical Assessment Services (STATS), ketika ditanya komentarnya tentang sudi Swan, malah balik bertanya, “berapa banyak data tersebut harus di-otak-atik agar bisa ditemukan kesimpulannya?” Para ahli yang lain mempertanyakan dan mengkritik studi tersebut dari segi metodologinya, data klinisnya, dan bahkan keabsahan logikannya dari sudut pandang ilmu Biologi.



Bukankah phthalate bisa mengganggu fungsi endocrine/hormon?


Pada uji laboratorium terhadap tikus, phthalate tidak menghambat aksi kerja hormon jantan maupun betina. Efek dari paparan phthalate terhadap tikus juga terbukti tidak menyerupai efek kerja hormone-hormon tersebut.



Bukankah phthalate menyebabkan kanker?


The International Agency for Research on Cancer, yang merupakan anak organisasi dari WHO, telah menyatakan pada tahun 2000 bahwa DEHP atau yang popular disebut dengan nama DOP “tidak dapat digolongkan” sebagai zat pemicu kanker pada manusia. Dasar dari kesimpulan tersebut adalah adanya cukup bukti bahwa proses biologis yang memicu terjadinya kanker pada tikus  ternyata tidak terdapat pada tubuh manusia.