Informasi tentang PVC (Polyvinyl Chloride, Polivinil Klorida) (Bahasa Indonesia)

Korban Dalam Dialog Peradaban tentang Sustainability?
22 Juni 2009, 11:04 am
Filed under: Isu Kesehatan, Isu Lingkungan Hidup

Berikut ini sebuah artikel menarik sebagai bahan renungan tentang wacana sustainability (Mohon maaf, artikel ini masih dalam bahasa aslinya). Artikel diikuti dengan sebuah komentar dalam bahasa Indonesia.

———— awal artikel ——–

When It Comes to Servers. Is Lead Really So Bad?

“I met a guy on a plane last month who has a career testing electronic components for the military and aerospace and setting standards for reliability. He told me about the new European Union’s Restriction of Hazardous Substances (ROHS) standard, which contains provisions outlawing lead in motherboards and a host of commercial and consumer electronic equipment. All very high sounding — lead is poisonous, protecting the individual, and so on. Yet the replacement of lead with pure tin directly is not without its own problems: It leads to much higher incidences of unreliability.

In what way? how about shorting out the entire motherboard? How about frying the hardware in one fell swoop? Or maybe just those annoying little hardware bugs you can’t explain.

For an interesting demonstration of tin degrading in the span of one day, take a look at this video on YouTube.
But it gets even worse, tin forms tiny whiskers that grow over time — sometimes starting after a day, sometimes after many years — and these eventually trigger a short circuit in electronics. This isn’t a one-off.
It is a well-known phenomenon that has been documented since the 1940s. A team at the University of Maryland has been studying tin whiskers and tin degradation for years.

Now this could well have happened inside your server, blade or laptop that failed unexpectedly. I had a brand new Dell laptop a couple of years back, and the motherboard shut down all of a sudden. Nobody could
explain the failure other than the generality of a faulty motherboard.
But for the past few years, most computer electronics have had lead-free solder. Pure tin solder has gone from nowhere to a majority share in just a few years. And unreliability might be the price we have to pay.

It might be coincidence, but blade enclosures are designed so that WHEN a failure happens, one blade is always spare as a failover (i.e., the system is now engineered for the expected unreliability). While failover itself isn’t a bad idea, when did we decide to accept failure as a fact of life? If it seems distinctly un-American, it is. It’s a European concept: Who cares if your cell phone dies or your laptop fries or your server shuts down — it’s good for the environment. Amazing what a group of suits will do when you lock them in a room and try to reach a consensus.

The guy on the plane was very worried about how this ROHS tin/lead standard had rolled across the planet and was making its way into aerospace. He told eerie tales of entire satellites failing in orbit, space shuttle components that keep failing and more. All in the name of green IT. Shocking!

(For the scarier side and a mini-briefing on tin whiskers, see five one-minute videos.)

To make matters worse, some parts of the world are adding metal bismuth into the solder mix as a solution. If you leave a tiny trace of lead in it, however, you get cracks and disintegration. And of course, bismuth is far more harmful to the environment than lead. Other attempts at a solution using a variety of tin alloys have also been subject to tin whiskers. Coatings haven’t solved the issue, either. Bottom line: It’s one great unsolved problem.

Now let’s get some perspective on lead. The effects of lead poisoning are pretty horrific. It poisoned the Romans when they used it for plumbing. In effect, they were drinking a potent lead/water cocktail. So plumbing pipes now use copper, iron, steel and plastic. Lead-based paints were eliminated in the past couple of decades, too. Yet in my last two houses, built before the 1950s, lead-based paints were almost certainly used from top to bottom. Half the nation could well be in a similar predicament and most of Europe. If it’s so appallingly harmful, where is the lead poisoning pandemic?

Lead is actually a fairly common element and is found in nature in several forms. It really is hard to avoid. So what’s next — lead-free mountains? The point is that lead must be eliminated sensibly and in some areas — like electronics — it is not always a smart move. We are talking here about a tenth of a gram of lead per chip. Maybe a gram or so per motherboard. Is it so dangerous in those quantities that it is preferable to remove it and resulting in more hardware crashing? Let’s think about it in terms of carbon footprints or environmental footprints: a gram of lead on a motherboard vs. far more electronic components sent to the landfills of the world due to rampant unreliability?

NASA is terrified of the tin whisker problem. Type the term into the web site and take a read. Space Shuttle, space station, Hubble and satellite troubles galore are traceable to this problem. The military is refusing to adhere to lead-free solder. Yet both NASA and the military will feel the adverse effect of it, as they can’t control every single component because they have come to rely on commercial, off-the-shelf hardware so heavily. For the average IT department, though, all of the big server OEMs have moved over to lead-free solder. So get used to strange glitches, part replacement and general hardware havoc. It might be a good idea to really lean on your vendors for top-notch hardware replacement warranties before this becomes too big of a problem. ”

———— akhir artikel ——–

Sebuah Komentar:

How sustainable is “Sustainable”?

Wacana sustainability memang sedang populer sekarang ini. Popularitasnya hingga sampai peringkat dimana ‘sustainability’ menjadi cap yang memiliki nilai jual secara ekonomis langsung. Maka banyak perusahaan besar yang memiliki agenda untuk ‘menghijaukan’ produk-produknya. Tetapi masalahnya penilaian rating sustainability itu sebenarnya tidak sederhana dan memerlukan kajian yang memakan waktu cukup lama. Dan prinsip sustainability yang dirumuskan saat ini sebenarnya adalah suatu wacana yang sifatnya masih sangat umum dan bisa dibilang agak filosofis.
Salah satu prinsip sustainability adalah mengurangi bahan-bahan yang diekstraksi (diubah bentuknya dari bentuk alaminya menjadi bentuk lain, misalnya metal) dari perut bumi, khususnya diprioritaskan bahan-bahan yang memang telah terbukti berpotensi meracuni manusia. Prinsip semacam ini sifatnya masih sangat umum. Padahal di kehidupan nyata, resiko dapat dan harus dioptimasikan dengan fungsi khusus bahan tersebut.
Karena itu, masalah-masalah sudah dapat diperkirakan akan terjadi di tataran praktek penerapan prinsip-prinsip sustainability. Yaitu ketika perusahaan-perusahaan mengambil keputusan bisnis dengan menerapkan pertimbangan-pertimbangan sustainability yang tidak matang, atau bahkan hanya sekedar ikut-ikutan trend, terlebih dengan ikut trend tersebut nilai jual produknya terangkat.
Ketika keputusan-keputusan bisnis yang tidak matang semacam itu dilakukan, maka sudah bisa dipastikan akan ada korban:
1. Bisnis yang menghasilkan produk yang mengandung bahan-bahan yang dinilai ‘tidak sustainable’.
2. Konsumen, karena bahan-bahan alternatif yang ditawarkan pada umumnya lebih mahal dan mengakibatkan kualitas produk akhir menjadi lebih buruk. Siapa yang mau membayar lebih mahal untuk barang yang kualitasnya lebih buruk?

Dialog peradaban tentang penerapan prinsip-prinsip sustainability ini menjadi semakin rumit karena ada daftar panjang antrian bahan-bahan alternatif yang mengklaim dirinya sebagai bahan yang layak untuk menggantikan bahan yang selama ini dipakai (dan sialnya bahan yang selama ini kita pakai dan dianggap ‘berbahaya’ ini memang bahan yang selama ini sudah terbukti berfungsi dengan sangat baik dan sangat handal).

Dialog peradaban adalah suatu yang memang penting untuk dilakukan, tapi
dialog seringkali menjadi rumit dan bahkan terkadang brutal, sehingga seringkali malah menjadi kontra-produktif, bahkan ironisnya justru kemudian bisa menjadi berlawanan dengan tujuan mulia sustainability yang digagas pada awalnya, karena produk-produk alternatif yang ditawarkan biasanya adalah produk-produk yang belum banyak dikaji secara menyeluruh rating sustainability-nya, karena produk-produk tersebut umumnya memang masih baru dan belum ada record sustainability-nya untuk penggunaan dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi masalah yang harus kita jawab secepatnya adalah:
“How sustainable is ‘sustainable’?”
Dan bagaimana kita bisa mengkompromikan fungsi khusus suatu bahan dalam skema penghitungan rating sustainability bahan tersebut?




Sebuah Pengakuan untuk Pipa PVC
2 Juni 2009, 4:16 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Teknologi Pembuatan

Produk pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc untuk pertama-kalinya memperoleh penghargaan berupa masuknya produk ini ke dalam klasifikasi sebagai bahan yang “menarik secara ekologi” (“Ecologically Interesting”), menurut kajian yang dilakukan oleh Eco-Devis, suatu kelompok kerja di bawah organisasi lingkungan hidup Swiss Eco-Bau. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk harus melalui kajian-kajian menyeluruh yang meliputi kajian keramahannya terhadap lingkungan dan dampaknya terhadap lingkungan, mulai dari masa pemrosesan bahan bakunya hingga proses produksinya menjadi produk akhir.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

 Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc dinilai sebagai produk yang sangat ramah lingkungan, hal yang telah diakui oleh Eco-Devis dan juga the Swiss Health Authority. Kelompok Kerja Eco-Devis mengukur berbagai material bahan bangunan dari segi konsumsi energi yang dibutuhkan untuk memproduksinya, mulai dari konsep hingga proses produksinya. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk tidak boleh mengandung sedikitpun zat berbahaya dan produk tersebut harus memiliki cara pembuangan atau teknik daur ulang yang dapat diterima menurut standar-standar keramahan terhadap lingkungan.

Eco-Devis merupakan suatu badan yang terdiri dari organisasi public maupun swasta, yang diakui dan didukung oleh the Swiss Society of Engineers and Architects, yang memiliki misi untuk mempromosikan teknik-teknik konstruksi bangunan yang berwawasan lingkungan. Sistem klasifikasi yang dilakukan oleh organisasi ini menentukan tingkat keramahan bahan-bahan bangunan terhadap lingkungan, yang menjadi panduan bagi para arsitek, disainer, kontraktor, insinyur dan ahli bangunan dalam menentukan pilihan bahan bangunan untuk bangunan-bangunan baru yang mereka tangani, sehingga diharapkan mereka mampu secara sadar membuat keputusan yang berwawasan lingkungan dalam pekerjaan mereka. Sistem klasifikasi ini juga digunakan sebagai syarat-syarat khusus dalam melakukan pembelian bahan-bahan bangunan dalam proses konstruksi gedung-gedung milik publik maupun milik swasta.

Chris Welton, Kepala Divisi Komunikasi organisasi PlasticsEurope menyambut gembira pengakuan terhadap Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc ini: “Kami gembira keramahan pipa PVC terhadap lingkungan telah mendapat pengakuan dari suatu organisasi yang sangat terpercaya”.

Pengakuan ini bukan yang pertama didapat oleh produk PVC. Pada tahun 2007, jendela PVC menerima klasifikasi terhormat “Ecologically Interesting” dari Eco-Devis setelah dinilai memenuhi standar tinggi criteria keramahan terhadap lingkungan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut.


Daur Ulang Bahan Plastik
27 Juni 2008, 3:12 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Umum

Pernahkah anda memperhatikan adanya simbol-simbol ini pada pengemas yang terbuat dari bahan plastik? Apakah makna dan tujuan dari dicantumkannya simbol-simbol tersebut?

Simbol segitiga dengan arah panah berputar merupakan symbol dari aktivitas daur ulang. Ini juga menyiratkan bahwa bahan-bahan plastik dapat di daur ulang. Sementara angka dan kata yang ada di dalam atau dibawah symbol segitiga tersebut adalah merupakan kode untuk mengidentifikasi jenis bahan plastik yang digunakan pada bahan pengemas tersebut. Terkadang kode indentifikasi yang digunakan berupa angka saja (1-7), dan terkadang berupa kata saja (PET atau PETE, HDPE, PVC atau V, LDPE, PP, PS, OTHER).

Apapun kode yang digunakan, masyarakat umum tetap memerlukan penjelasan mengenai makna kode-kode tersebut.

Berikut ini adalah arti dari kode daur ulang bahan plastik:


“1” atau “PET” atau “PETE” adalah kode untuk bahan Poly Ethylene Terephthalate.

“2” atau “HDPE” adalah kode untuk bahan High Density Poly Ethylene.

“3” atau “V” atau “PVC” adalah kode untuk bahan Poly Vinyl Chlorida.

“4” atau “LDPE” adalah kode untuk bahan Low Density Poly Ethylene.

“5” atau “PP” adalah kode untuk bahan Poly Propylene.

“6” atau “PS” adalah kode untuk bahan Poly Styrene.

“7” atau “OTHER” adalah kode untuk bahan plastik jenis selain itu, seperti Poly Carbonate, Poly Methyl Methacrylate, dan lain-lain.


Seperti kita ketahui, aktivitas daur ulang sampah rumah tangga di Indonesia belum dikelola dengan efisien. Proses pengelolaan daur ulang sampah rumah tangga harus di mulai di rumah-rumah, yaitu tempat dimana sampah-sampah tersebut mula-mula dihasilkan, dan di tahapan inilah sebenarnya efisiensi keseluruhan proses daur ulang sampah domestik ditentukan. Idealnya, di rumah-rumah, sampah-sampah sudah dipisah-pisahkan menurut jenisnya, biasanya dibagi menurut kategori ”sampah basah” dan ”sampah kering”. Sampah basah adalah sampah organik sisa-sisa makanan, sementara sampah kering biasanya dipisah-pisahkan lagi menjadi ”gelas dan plastik”, ”kaleng/aluminium”, dan ”kertas”.

Mengapa sampah perlu dipisah-pisahkan sedemikian rupa? Alasan utamanya adalah agar sampah yang masih bisa didaur ulang itu tidak rusak sifat-sifatnya. Sebagai contoh, jika sampah plastik yang bersih tercampur dengan sampah basah yang berupa sisa-sisa makanan, maka diperlukan usaha-usaha untuk membersihkan plastik tersebut dari kotoran berminyak dari sisa -sisa makanan dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Jika plastik yang berminyak dan bercampur dengan sedikit sisa makanan itu dicoba diproses kembali menjadi barang baru dengan menggunakan mesin pemroses plastik, maka sifat produk plastik yang dihasilkan akan menjadi jauh lebih buruk karena adanya kontaminasi dengan bahan-bahan lain (kotoran).

Aktivitas daur ulang atas sebagian dari sampah rumah tangga sebenarnya sudah berlangsung selama ini, yang dimungkinkan karena adanya nilai ekonomi dari sebagian komponen dalam sampah rumah tangga, misalnya botol-botol plastik, besi, kayu dan gelas. Tapi sebenarnya masih banyak lagi komponen sampah yang bisa di daur ulang, jika saja aktivitas daur ulang tersebut dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Aktivitas semacam ini memerlukan dukungan segenap masyarakat dan terutama campur tangan pemerintah.


Di Jepang, misalnya, daur ulang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh rakyat, lengkap dengan undang-undang yang disetujui lembaga DPRD disana, yaitu UU Pengumpulan Sampah Terpilah dan Daur Ulang Kaleng dan Kemasan (1997). Mengingat masalah penanganan sampah kita yang kurang baik dan sudah seringkali menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, maka adanya inisiatif Pemerintah dan masyarakat untuk menggiatkan aktivitas daur ulang yang didukung dengan adanya undang-undang tentang pengelolaan sampah dan daur ulang sebenarnya sudah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak saat ini.


Bahan plastik yang sebenarnya hingga saat ini telah memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, pada akhirnya malah dibebani citra buruk ”tidak ramah lingkungan” karena bertebarannya sampah plastik dimana-mana. Sampah-sampah plastik yang bertebaran ini termasuk dalam kategori sampah plastik yang sudah terkontaminasi oleh kotoran, sehingga mempersulit (mempermahal biaya) proses daur ulangnya, sehingga menjadikannya tidak ekonomis untuk didaur ulang. Jika saja dilakukan pemisahan atas sampah di rumah-rumah, maka jenis sampah yang terkontaminasi kotoran semacam ini akan dapat dikurangi secara drastis. Sehingga sebagian besar sampah plastik akan dapat dengan mudah di daur ulang. Sebenarnya ini adalah tanggungjawab seluruh masyarakat untuk mengelola sampah-sampah plastik tersebut, karena daur ulang tidak mungkin dilakukan tanpa kerjasama yang baik oleh masyarakat. Ada sementara pihak yang mengusulkan pengurangan penggunaan bahan plastik sebagai suatu solusi bagi masalah yang ditimbulkan oleh sampah plastik. Sebenarnya solusi semacam itu tidak menyentuh akar dari permasalahan yang sesungguhnya. Jika kita amati, tingkat konsumsi bahan plastik perkapita di suatu negara adalah sebanding dengan pendapatan perkapita negara tersebut. Artinya dengan semakin majunya suatu negara maka otomatis tingkat konsumsi bahan plastik akan meningkat, karena bahan plastik adalah kebutuhan dasar masyarakat modern yang telah menyumbang pada perbaikan tingkat kesehatan, higienis, kemudahan dan kenyamanan hidup masyarakat. Tingkat konsumsi plastik  PVC  di Indonesia pertahun saat ini adalah 1,45 kg per kapita (data tahun 2007), hanya sedikit lebih tinggi dibanding negara-negara miskin di Afrika. Angka ini masih 4 kali lebih rendah dari Thailand (5,97 kg per kapita) dan 7 kali lebih rendah dibandingkan Malaysia (10,4 kg per kapita) (data tahun 2004). Dan tingkat konsumsi plastik PVC tertinggi adalah di Eropa Barat (14,1 kg per kapita) dan Amerika Serikat (15,5 kg per kapita) (data tahun 2004). Sementara tingkat konsumsi plastik jenis lain di negara-negara tersebut kurang lebih proporsional dengan tingkat konsumsi PVC tersebut.

Mengurangi konsumsi plastik berarti membawa kita setingkat atau bahkan lebih rendah dari negara-negara miskin di Afrika. Sementara itu negara-negara Eropa mampu ”berdamai” dengan tingkat konsumsi plastik yang begitu tinggi (14,1 kg per kapita) disebabkan karena proses daur ulang plastik telah dilakukan secara intensif di negara-negara tersebut, sehingga sampah plastik tidak menjadi masalah. Di negara-negara dengan tingkat daur ulang plastik yang baik, bahan plastik justru menjadi sahabat masyarakat karena telah diakui luas manfaatnya selama ini.



9 Sumber Kesalahfahaman tentang Bahan PVC
5 Oktober 2007, 11:04 am
Filed under: Isu Kesehatan, Isu Lingkungan Hidup

1.  Analisa Daur Hidup – Life Cycle Analysis (LCA)

Banyak pakar sepakat bahwa untuk benar-benar memahami dampak lingkungan dari penggunaan suatu produk, seluruh daur hidup produk tersebut harus dievaluasi secara seksama. Inilah yang disebut Analisa Daur Hidup.

Efek-efek lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi suatu produk dengan berjalannya waktu dapat dikompensasi atau diimbangi dengan usia pakai yang panjang, manfaat yang besar dari digunakannya produk tersebut serta dampak lingkungan yang rendah atas penggunaan produk tersebut. Misalnya, untuk kasus jendela PVC, emisi yang terjadi selama proses pembuatan produk ini ternyata tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan keuntungan yang didapat selama puluhan tahun karena penggunaan jendela PVC: penghematan energi.

  • Produk-produk dari bahan PVC unggul dalam efisiensi energi, kapasitas isolasi termal, kontribusi yang rendah terhadap efek rumah kaca, kemudahan perawatan dan usia pakai yang panjang (tahan lama).
  • Hasil studi terbaru tentang daur hidup produk PVC di sektor konstruksi bangunan menyatakan bahwa dampak lingkungan dan kesehatan dari digunakannya produk PVC sama atau lebih kecil dibanding kebanyakan bahan-bahan lain.

2. Keselamatan Kerja

Pada tahun 1973, dokter-dokter di suatu pabrik VCM (vinyl chloride monomer, bahan baku utama PVC) menemukan beberapa kasus suatu jenis kanker hati yang langka yang diidap beberapa pekerja disitu. Dalam masa dua tahun sesudahnya US Occcupational Safety and Health Administration (OSHA) dan US Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan regulasi untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia dan emisi bahan kimia ke lingkungan sekitar. Untuk memenuhi tuntutan ini industri PVC di seluruh dunia merekayasa-ulang proses produksinya.

  • Tidak ada lagi kasus terdokumentasi tentang pengidap kanker di kalangan pekerja di industri VCM dan PVC yang karirnya dimulai semenjak diresmikannya regulasi tersebut.

3. Vinyl Chloride Monomer (VCM)

EPA memperkirakan bahwa emisi VCM di industri PVC telah ditekan sebanyak lebih dari 99% semenjak tahun 1970-an. Lebih jauh lagi, tidak ditemui adanya catatan kasus dimana ada anggota masyarakat dirugikan karena paparan VCM.

4. Dioxin

PVC merupakan sumber dioxin yang sangat rendah, begitu rendahnya hingga kadar dioxin di lingkungan sekitar kita pada dasarnya tidak berubah jika semua pabrik PVC ditutup dan semua produk PVC tidak digunakan lagi di seluruh dunia. Di lain pihak justru banyak sekali manfaat penting yang didapat dari penggunaan PVC di seluruh dunia selama ini.

Akan tetapi industri PVC tetap terus menerus mengupayakan pengurangan dihasilkannya dioxin, pada saat ini proses produksi PVC hanya menghasilkan beberapa gram dioxin saja per tahun.

Sumber dioxin yang utama diantaranya kebakaran hutan, gunung meletus, pembakaran kayu di perapian, emisi kendaraan bermotor dan proses pembuatan bahan bangunan yang lain.

Menurut data dari EPA, tingkat emisi dioxin selalu menurun sepanajng 30 tahun terakhir, sementara volume produksi PVC telah meningkan menjadi tiga kali lipat pada jangka waktu yang sama.

Menurut EPA:

  • Porsi emisi dioxin oleh industri PVC adalah sangat kecil, hanya 0.5% dari total emisi dioxin.

5. Pengisian tanah (Landfill)

Produk-produk dari bahan PVC bersifat sangat tahan terhadap kondisi korosif yang terjadi pada landfill dan tidak akan menjadi rusak atau terdegradasi dalam kondisi tersebut. Bahkan PVC seringkali digunakan untuk membuat pembungkus dan penutup bahan-bahan yang ditimbun tersebut karena kestabilannya dan ketahanannya terhadap bahan-bahan yang korosif.

  • Bahan PVC yang berakhir di landfill hanya sekitar 0.6% dari berat total limbah tersebut.
  • Sekitar 18 juta pound limbah berbahan PVC batal dikirim ke landfill dan didaur ulang menjadi produk-produk generasi kedua.

6. Asam Klorida (HCl)

Asam klorida (HCl) adalah produk sampingan dari pembakaran bahan PVC. Dalam situasi kebakaran yang sesungguhnya, kandungan HCl di udara jauh lebih rendah dari batas konsentrasi yang dinyatakan berbahaya bagi manusia. Karena sifatnya yang menimbulkan iritasi dan baunya yang menyengat, HCl yang terbakar justru berfungsi sebagai zat yang memacu orang untuk menjauh dari tempat terjadinya kebakaran.

7.  Phthalate dan Aditif-Aditif yang lain

Sifat-sifat fisik PVC menyebabkan aditif-aditif seperti stabilizer dan antioxidant dengan aman terkurung dalam struktur bahan tersebut dan tidak mudah lepas mencemari manusia dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi yang akhir-akhir ini ramai diberitakan adalah kekhawatiran tentang paparan plasticizer dari jenis phthalate yang banyak digunakan dalam produk PVC yang lunak. Data hasil studi yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun menyimpulkan bahwa phthalate tidak menyebabkan gangguan pada kesehatan dan kesejahteraan manusia.

  • Aditif-aditif PVC telah dipelajari selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan yang independent, badan-badan pemerintah:serta industri, dan saat ini bahan PVC telah digunakan dengan aman selama lebih dari 50 tahun.

8. Pembakaran sampah (Insinerasi)

PVC dapat dengan aman di-insinerasi dan energi hasil pembakarannya digunakan lagi. Studi skala besar yang dilakukan oleh American Society of Mechanical Engineers (ASME) menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kandungan klorin dalam sampah dan jumlah emisi dioxin yang dihasilkan dalam proses pembakaran sampah tersebut secara terkontrol dalam insinerator.

Studi tersebut menyebutkan bahwa banyak literature ilmiah yang secara jelas telah menyebutkan bahwa kondisi operasi pembakaran adalah factor terpenting yang menyebabkan terjadinya dioxin.

9. Klorin

PVC tidak menyebabkan pencemaran udara.karena gas klorin yang digunakan untuk membuat PVC terkunci rapat secara kimiawi dalam struktur bahan PVC. Juga ketika PVC didaur ulang, dimanfaatkan sebagai pengisi tanah (landfill), ataupun dibakar dalam incinerator modern, emisi gas klorin ke lingkungan tidak terjadi.