Informasi tentang PVC (Polyvinyl Chloride, Polivinil Klorida) dalam Bahasa Indonesia


Korban Dalam Dialog Peradaban tentang Sustainability?
22 Juni 2009, 11:04 am
Filed under: Isu Kesehatan, Isu Lingkungan Hidup

Berikut ini sebuah artikel menarik sebagai bahan renungan tentang wacana sustainability (Mohon maaf, artikel ini masih dalam bahasa aslinya). Artikel diikuti dengan sebuah komentar dalam bahasa Indonesia.

———— awal artikel ——–
Sumber:
http://www.serverwatch.com/hreviews/article.php/3825871

When It Comes to Servers. Is Lead Really So Bad?

“I met a guy on a plane last month who has a career testing electronic components for the military and aerospace and setting standards for reliability. He told me about the new European Union’s Restriction of Hazardous Substances (ROHS) standard, which contains provisions outlawing lead in motherboards and a host of commercial and consumer electronic equipment. All very high sounding — lead is poisonous, protecting the individual, and so on. Yet the replacement of lead with pure tin directly is not without its own problems: It leads to much higher incidences of unreliability.

In what way? how about shorting out the entire motherboard? How about frying the hardware in one fell swoop? Or maybe just those annoying little hardware bugs you can’t explain.

For an interesting demonstration of tin degrading in the span of one day, take a look at this video on YouTube.
But it gets even worse, tin forms tiny whiskers that grow over time — sometimes starting after a day, sometimes after many years — and these eventually trigger a short circuit in electronics. This isn’t a one-off.
It is a well-known phenomenon that has been documented since the 1940s. A team at the University of Maryland has been studying tin whiskers and tin degradation for years.

Now this could well have happened inside your server, blade or laptop that failed unexpectedly. I had a brand new Dell laptop a couple of years back, and the motherboard shut down all of a sudden. Nobody could
explain the failure other than the generality of a faulty motherboard.
But for the past few years, most computer electronics have had lead-free solder. Pure tin solder has gone from nowhere to a majority share in just a few years. And unreliability might be the price we have to pay.

It might be coincidence, but blade enclosures are designed so that WHEN a failure happens, one blade is always spare as a failover (i.e., the system is now engineered for the expected unreliability). While failover itself isn’t a bad idea, when did we decide to accept failure as a fact of life? If it seems distinctly un-American, it is. It’s a European concept: Who cares if your cell phone dies or your laptop fries or your server shuts down — it’s good for the environment. Amazing what a group of suits will do when you lock them in a room and try to reach a consensus.

The guy on the plane was very worried about how this ROHS tin/lead standard had rolled across the planet and was making its way into aerospace. He told eerie tales of entire satellites failing in orbit, space shuttle components that keep failing and more. All in the name of green IT. Shocking!

(For the scarier side and a mini-briefing on tin whiskers, see five one-minute videos.)

To make matters worse, some parts of the world are adding metal bismuth into the solder mix as a solution. If you leave a tiny trace of lead in it, however, you get cracks and disintegration. And of course, bismuth is far more harmful to the environment than lead. Other attempts at a solution using a variety of tin alloys have also been subject to tin whiskers. Coatings haven’t solved the issue, either. Bottom line: It’s one great unsolved problem.

Now let’s get some perspective on lead. The effects of lead poisoning are pretty horrific. It poisoned the Romans when they used it for plumbing. In effect, they were drinking a potent lead/water cocktail. So plumbing pipes now use copper, iron, steel and plastic. Lead-based paints were eliminated in the past couple of decades, too. Yet in my last two houses, built before the 1950s, lead-based paints were almost certainly used from top to bottom. Half the nation could well be in a similar predicament and most of Europe. If it’s so appallingly harmful, where is the lead poisoning pandemic?

Lead is actually a fairly common element and is found in nature in several forms. It really is hard to avoid. So what’s next — lead-free mountains? The point is that lead must be eliminated sensibly and in some areas — like electronics — it is not always a smart move. We are talking here about a tenth of a gram of lead per chip. Maybe a gram or so per motherboard. Is it so dangerous in those quantities that it is preferable to remove it and resulting in more hardware crashing? Let’s think about it in terms of carbon footprints or environmental footprints: a gram of lead on a motherboard vs. far more electronic components sent to the landfills of the world due to rampant unreliability?

NASA is terrified of the tin whisker problem. Type the term into the www.nasa.gov web site and take a read. Space Shuttle, space station, Hubble and satellite troubles galore are traceable to this problem. The military is refusing to adhere to lead-free solder. Yet both NASA and the military will feel the adverse effect of it, as they can’t control every single component because they have come to rely on commercial, off-the-shelf hardware so heavily. For the average IT department, though, all of the big server OEMs have moved over to lead-free solder. So get used to strange glitches, part replacement and general hardware havoc. It might be a good idea to really lean on your vendors for top-notch hardware replacement warranties before this becomes too big of a problem. “

———— akhir artikel ——–

Sebuah Komentar:

How sustainable is “Sustainable”?

Wacana sustainability memang sedang populer sekarang ini. Popularitasnya hingga sampai peringkat dimana ‘sustainability’ menjadi cap yang memiliki nilai jual secara ekonomis langsung. Maka banyak perusahaan besar yang memiliki agenda untuk ‘menghijaukan’ produk-produknya. Tetapi masalahnya penilaian rating sustainability itu sebenarnya tidak sederhana dan memerlukan kajian yang memakan waktu cukup lama. Dan prinsip sustainability yang dirumuskan saat ini sebenarnya adalah suatu wacana yang sifatnya masih sangat umum dan bisa dibilang agak filosofis.
Salah satu prinsip sustainability adalah mengurangi bahan-bahan yang diekstraksi (diubah bentuknya dari bentuk alaminya menjadi bentuk lain, misalnya metal) dari perut bumi, khususnya diprioritaskan bahan-bahan yang memang telah terbukti berpotensi meracuni manusia. Prinsip semacam ini sifatnya masih sangat umum. Padahal di kehidupan nyata, resiko dapat dan harus dioptimasikan dengan fungsi khusus bahan tersebut.
Karena itu, masalah-masalah sudah dapat diperkirakan akan terjadi di tataran praktek penerapan prinsip-prinsip sustainability. Yaitu ketika perusahaan-perusahaan mengambil keputusan bisnis dengan menerapkan pertimbangan-pertimbangan sustainability yang tidak matang, atau bahkan hanya sekedar ikut-ikutan trend, terlebih dengan ikut trend tersebut nilai jual produknya terangkat.
Ketika keputusan-keputusan bisnis yang tidak matang semacam itu dilakukan, maka sudah bisa dipastikan akan ada korban:
1. Bisnis yang menghasilkan produk yang mengandung bahan-bahan yang dinilai ‘tidak sustainable’.
2. Konsumen, karena bahan-bahan alternatif yang ditawarkan pada umumnya lebih mahal dan mengakibatkan kualitas produk akhir menjadi lebih buruk. Siapa yang mau membayar lebih mahal untuk barang yang kualitasnya lebih buruk?

Dialog peradaban tentang penerapan prinsip-prinsip sustainability ini menjadi semakin rumit karena ada daftar panjang antrian bahan-bahan alternatif yang mengklaim dirinya sebagai bahan yang layak untuk menggantikan bahan yang selama ini dipakai (dan sialnya bahan yang selama ini kita pakai dan dianggap ‘berbahaya’ ini memang bahan yang selama ini sudah terbukti berfungsi dengan sangat baik dan sangat handal).

Dialog peradaban adalah suatu yang memang penting untuk dilakukan, tapi
dialog seringkali menjadi rumit dan bahkan terkadang brutal, sehingga seringkali malah menjadi kontra-produktif, bahkan ironisnya justru kemudian bisa menjadi berlawanan dengan tujuan mulia sustainability yang digagas pada awalnya, karena produk-produk alternatif yang ditawarkan biasanya adalah produk-produk yang belum banyak dikaji secara menyeluruh rating sustainability-nya, karena produk-produk tersebut umumnya memang masih baru dan belum ada record sustainability-nya untuk penggunaan dalam jangka waktu yang panjang.

Jadi masalah yang harus kita jawab secepatnya adalah:
“How sustainable is ‘sustainable’?”
Dan bagaimana kita bisa mengkompromikan fungsi khusus suatu bahan dalam skema penghitungan rating sustainability bahan tersebut?

Salam,
Indratmoko



Sebuah Pengakuan untuk Pipa PVC
2 Juni 2009, 4:16 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Teknologi Pembuatan

Produk pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc untuk pertama-kalinya memperoleh penghargaan berupa masuknya produk ini ke dalam klasifikasi sebagai bahan yang “menarik secara ekologi” (“Ecologically Interesting”), menurut kajian yang dilakukan oleh Eco-Devis, suatu kelompok kerja di bawah organisasi lingkungan hidup Swiss Eco-Bau. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk harus melalui kajian-kajian menyeluruh yang meliputi kajian keramahannya terhadap lingkungan dan dampaknya terhadap lingkungan, mulai dari masa pemrosesan bahan bakunya hingga proses produksinya menjadi produk akhir.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

Pipa PVC, di-stabilisasi dengan Calcium Zinc, memperoleh klasifikasi Eco-Devis sebagai produk yang memenuhi standar ekologi yang tinggi.

 Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc dinilai sebagai produk yang sangat ramah lingkungan, hal yang telah diakui oleh Eco-Devis dan juga the Swiss Health Authority. Kelompok Kerja Eco-Devis mengukur berbagai material bahan bangunan dari segi konsumsi energi yang dibutuhkan untuk memproduksinya, mulai dari konsep hingga proses produksinya. Untuk memperoleh klasifikasi puncak “Ecologically Interesting”, suatu produk tidak boleh mengandung sedikitpun zat berbahaya dan produk tersebut harus memiliki cara pembuangan atau teknik daur ulang yang dapat diterima menurut standar-standar keramahan terhadap lingkungan.

Eco-Devis merupakan suatu badan yang terdiri dari organisasi public maupun swasta, yang diakui dan didukung oleh the Swiss Society of Engineers and Architects, yang memiliki misi untuk mempromosikan teknik-teknik konstruksi bangunan yang berwawasan lingkungan. Sistem klasifikasi yang dilakukan oleh organisasi ini menentukan tingkat keramahan bahan-bahan bangunan terhadap lingkungan, yang menjadi panduan bagi para arsitek, disainer, kontraktor, insinyur dan ahli bangunan dalam menentukan pilihan bahan bangunan untuk bangunan-bangunan baru yang mereka tangani, sehingga diharapkan mereka mampu secara sadar membuat keputusan yang berwawasan lingkungan dalam pekerjaan mereka. Sistem klasifikasi ini juga digunakan sebagai syarat-syarat khusus dalam melakukan pembelian bahan-bahan bangunan dalam proses konstruksi gedung-gedung milik publik maupun milik swasta.

Chris Welton, Kepala Divisi Komunikasi organisasi PlasticsEurope menyambut gembira pengakuan terhadap Pipa PVC yang di-stabilisasi dengan Calcium Zinc ini: “Kami gembira keramahan pipa PVC terhadap lingkungan telah mendapat pengakuan dari suatu organisasi yang sangat terpercaya”.

Pengakuan ini bukan yang pertama didapat oleh produk PVC. Pada tahun 2007, jendela PVC menerima klasifikasi terhormat “Ecologically Interesting” dari Eco-Devis setelah dinilai memenuhi standar tinggi criteria keramahan terhadap lingkungan yang ditetapkan oleh organisasi tersebut.

Referensi:

www.eco-bau.ch



PVC: Aplikasi Medis untuk Kehidupan
2 Juni 2009, 11:10 am
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Kesehatan
Selang PVC untuk keselamatan hidup. Nutrisi dan cairan mencapai sistem pencernaan pasien melalui sistem selang PVC.

Selang PVC untuk keselamatan hidup. Nutrisi dan cairan mencapai sistem pencernaan pasien melalui sistem selang PVC.

Alat bantu pernafasan yang dapat diandalkan, kantung darah yang steril ataupun sarung tangan higienis sekali-pakai adalah beberapa contoh yang menjadikan produk peralatan medis dari bahan PVC sesuatu yang tak tergantikan dalam dunia medis selama 50 tahun terakhir.
Dikarenakan kompatibilitasnya yang luar biasa, para dokter juga merekomendasikan produk-produk yang terbuat dari PVC bagi orang-orang yang menderita berbagai jenis alergi. Melalui proses pengembangan produk yang inovatif, para produsen peralatan medis terus berusaha mengembangkan teknik-teknik terbaik untuk melayani aktivitas perawatan pasien.

Makan menjadikan tubuh dan fikiran sehat, disamping memang merupakan suatu aktivitas yang menyenangkan bagi manusia. Akan tetapi orang yang sedang sakit seringkali mengalami gangguan dalam aktivitas makan. Ketika gangguan semacam ini terjadi pada seseorang, dia tidak mampu mencerna makanan dalam jumlah yang cukup melalui mekanisme yang biasa. Pada kondisi semacam ini, asupan sari makanan dari luar menjadi hal yang vital untuk dilakukan, dimana pasien menerima cukup energi dan nutrisi melalui makanan cair yang disalurkan ke saluran pencernaan. Satu kantong makanan cair mencukupi kebutuhan pasien untuk sehari penuh, sementara kandungan kalori dari makanan cair tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Sistem Suplai Nutrisi yang Dapat Diandalkan
Sebuah perusahaan Jerman Pfrimmer Nutricia GmbH yang bermarkas di Erlangen merupakan spesialis dalam bidang nutrisi medis yang menawarkan banyak pilihan produk minuman nutrisi maupun makanan cair, system aplikasinya serta selang dan pompa pendorong makanan cair ke dalam tubuh para pasien. Perusahaan ini mengembangkan produk peralatan medis Flocare yang berfungsi untuk mengatur dan mengalirkan zat nutrisi yang diperlukan bagi kelangsungan hidup pasien. Sistem ini mengalirkan makanan cair dari suatu kantong plastik ataupun botol gelas ke dalam tubuh pasien menggunakan gaya gravitasi ataupun pompa sebagai pendorong.

Sistem Aliran Menggunakan Selang
Nutrisi ditransportasikan melalui system selang yang terbuat dari bahan PVC yang lentur. Sebagai perusahaan pionir dalam bidang nutrisi medis, Pfrimmer Nutricia telah menawarkan bahan selang PVC yang menggunakan plasticizer Hexamoll DINCH dari BASF sejak tahun 2005 karena suatu alasan yang baik: substrat nutrisi mengandung lemak yang dapat melarutkan sebagian kecil plasticizer yang terkandung dalam bahan selang. Kecepatan migrasi plasticizer dari selang ke nutrisi cair tersebut adalah jauh lebih kecil bila menggunakan Hexamoll DINCH karena sifatnya yang memiliki kelarutan rendah dalam lemak.
“Dengan menggunakan Hexamoll DINCH, kami dapat mencapai standar yang lebih tinggi dalam bidang nutrisi medis”, kata Dagmar Dehler, Head of Public Health Care di Pfrimmer Nutricia. Pencapaian standar yang lebih tinggi ini telah dikonfirmasi melalui pengkajian teknologi aplikasi, test toksikologi dan juga rekomendasi dan serifikasi oleh institusi dan badan internasional. Singkatnya, Hexamoll DINCH adalah jenis plasticizer yang telah dikaji secara intensif dan diterima sebagai alternative terbaik saat ini untuk aplikasi yang memungkinkan kontak dengan manusia, seperti peralatan medis, pengemas makanan dan obat-obatan serta mainan anak-anak.

Referensi:
www.pvc.org
www.pfimmer-nutricia.de
www.hexamoll.de



Experimen untuk Pelestarian Iklim
18 Maret 2009, 3:05 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan

Bagaimana kondisi arsitektur masa depan dengan kondisi semakin habisnya sumberdaya alam dan semakin terbatasnya sumberdaya energi? Pertanyaan ini bergaung di banyak perusahaan, dan telah mendorong mereka untuk mengembangkan solusi-solusi untuk mencapai suatu pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Apakah yang dimaksud dengan pembangunan yang berkelanjutan itu? Yaitu pembangunan yang dilakukan tanpa mengurangi kualitas lingkungan hidup atau merusak pilar-pilar lingkungan hidup yang selama ini telah mendukung kehidupan umat manusia.

Beberapa produk pendukung arsitektur bangunan yang telah berkontribusi bagi pelestarian sumberdaya alam dan energi diantaranya adalah inovasi dalam bidang bahan-bahan kimia pendukung industri konstruksi, bahan-bahan isolasi panas dan jendela PVC yang meningkatkan efisiensi penggunaan energi di rumah dan bangunan-bangunan.

Suatu penelitian saat ini sedang berlangsung di kota Nottingham, Inggris, untuk mengkaji factor-faktor yang bisa mendukung penghematan energi dan pelestarian iklim global. Hasil penelitian ini kemungkinan akan sangat berpengaruh bagi konsep disain perumahan di masa datang.

Di kampus Universitas Nottingham, BASF bekerjasama dengan Departemen Arsitektur Universitas tersebut, telah membangun sebuah rumah dengan konsumsi energi yang rendah. Seperti kita tahu rumah-rumah di negara-negara yang mengalami musim dingin mengkonsumsi cukup banyak energi setiap tahunnya untuk pamanasan ruang-ruang dalam rumah tersebut.

"BASF house" atau "rumah 1,5 liter", model rumah masa depan untuk menjawab tantangan semakin terbatasnya sumberdaya alam dan energi
“BASF house” atau “rumah 1,5 liter”, model rumah masa depan untuk menjawab tantangan semakin terbatasnya sumberdaya alam dan energi

Penelitian tersebut merupakan bagian dari proyek riset yang ekstensif yang melibatkan beberapa mitra, dengan total 6 gedung yang khusus dibangun sebagai obyek eksperimen dengan menggunakan berbagai teknologi penghematan energi yang paling mutakhir. Keenam gedung yang masing-masing menawarkan solusi inovasi yang berbeda-beda itu akan menjalani uji coba yang ekstensif. Gedung-gedung tersebut membutuhkan energi sekitar 12,5 kWh/m2 per tahun, atau bisa juga disebut sebagai “rumah 1,5 liter”, berdasarkan jumlah konsumsi BBM per meter persegi per tahunnya.

 

”Rumah 1,5 liter” tersebut dibangun menggunakan bahan-bahan hasil inovasi BASF yang merupakan perusahaan kimia terbesar di dunia. Diantara inovasi tersebut adalah bahan-bahan baru yang memungkinkan rumah-rumah tersebut ter-insulasi dengan baik. Kunci keistimewaan “rumah 1,5 liter” terletak pada kombinasi penggunaan berbagai teknologi penghemat energi, termasuk system jendela PVC yang saat ini sedang naik daun di Eropa karena telah terbukti mampu memberikan penghematan energi yang sangat berarti.

 

Penghematan energi, harga yang lebih terjangkau dan kontribusi bagi pelestarian lingkungan adalah faktor yang menjadikan jendela PVC semakin poluler

Penghematan energi, harga yang lebih terjangkau dan kontribusi bagi pelestarian lingkungan adalah faktor yang menjadikan jendela PVC semakin poluler

 

Ruang-ruang dalam profil jendela PVC diisi dengan busa keras polystyrene untuk mendapatkan efek insulasi suhu yang ideal

Ruang-ruang dalam profil jendela PVC diisi dengan busa keras polystyrene untuk mendapatkan efek insulasi suhu yang ideal

 

http://www.pvc.org

http://www.house.basf.co.uk

 

 



Daur Ulang Bahan Plastik
27 Juni 2008, 3:12 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Lingkungan Hidup, Umum

Pernahkah anda memperhatikan adanya simbol-simbol ini pada pengemas yang terbuat dari bahan plastik? Apakah makna dan tujuan dari dicantumkannya simbol-simbol tersebut?

Simbol segitiga dengan arah panah berputar merupakan symbol dari aktivitas daur ulang. Ini juga menyiratkan bahwa bahan-bahan plastik dapat di daur ulang. Sementara angka dan kata yang ada di dalam atau dibawah symbol segitiga tersebut adalah merupakan kode untuk mengidentifikasi jenis bahan plastik yang digunakan pada bahan pengemas tersebut. Terkadang kode indentifikasi yang digunakan berupa angka saja (1-7), dan terkadang berupa kata saja (PET atau PETE, HDPE, PVC atau V, LDPE, PP, PS, OTHER).

Apapun kode yang digunakan, masyarakat umum tetap memerlukan penjelasan mengenai makna kode-kode tersebut.

Berikut ini adalah arti dari kode daur ulang bahan plastik:

 

“1” atau “PET” atau “PETE” adalah kode untuk bahan Poly Ethylene Terephthalate.

“2” atau “HDPE” adalah kode untuk bahan High Density Poly Ethylene.

“3” atau “V” atau “PVC” adalah kode untuk bahan Poly Vinyl Chlorida.

“4” atau “LDPE” adalah kode untuk bahan Low Density Poly Ethylene.

“5” atau “PP” adalah kode untuk bahan Poly Propylene.

“6” atau “PS” adalah kode untuk bahan Poly Styrene.

“7” atau “OTHER” adalah kode untuk bahan plastik jenis selain itu, seperti Poly Carbonate, Poly Methyl Methacrylate, dan lain-lain.

 

Seperti kita ketahui, aktivitas daur ulang sampah rumah tangga di Indonesia belum dikelola dengan efisien. Proses pengelolaan daur ulang sampah rumah tangga harus di mulai di rumah-rumah, yaitu tempat dimana sampah-sampah tersebut mula-mula dihasilkan, dan di tahapan inilah sebenarnya efisiensi keseluruhan proses daur ulang sampah domestik ditentukan. Idealnya, di rumah-rumah, sampah-sampah sudah dipisah-pisahkan menurut jenisnya, biasanya dibagi menurut kategori ”sampah basah” dan ”sampah kering”. Sampah basah adalah sampah organik sisa-sisa makanan, sementara sampah kering biasanya dipisah-pisahkan lagi menjadi ”gelas dan plastik”, ”kaleng/aluminium”, dan ”kertas”.

Mengapa sampah perlu dipisah-pisahkan sedemikian rupa? Alasan utamanya adalah agar sampah yang masih bisa didaur ulang itu tidak rusak sifat-sifatnya. Sebagai contoh, jika sampah plastik yang bersih tercampur dengan sampah basah yang berupa sisa-sisa makanan, maka diperlukan usaha-usaha untuk membersihkan plastik tersebut dari kotoran berminyak dari sisa -sisa makanan dan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Jika plastik yang berminyak dan bercampur dengan sedikit sisa makanan itu dicoba diproses kembali menjadi barang baru dengan menggunakan mesin pemroses plastik, maka sifat produk plastik yang dihasilkan akan menjadi jauh lebih buruk karena adanya kontaminasi dengan bahan-bahan lain (kotoran).

Aktivitas daur ulang atas sebagian dari sampah rumah tangga sebenarnya sudah berlangsung selama ini, yang dimungkinkan karena adanya nilai ekonomi dari sebagian komponen dalam sampah rumah tangga, misalnya botol-botol plastik, besi, kayu dan gelas. Tapi sebenarnya masih banyak lagi komponen sampah yang bisa di daur ulang, jika saja aktivitas daur ulang tersebut dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Aktivitas semacam ini memerlukan dukungan segenap masyarakat dan terutama campur tangan pemerintah.

 

Di Jepang, misalnya, daur ulang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh rakyat, lengkap dengan undang-undang yang disetujui lembaga DPRD disana, yaitu UU Pengumpulan Sampah Terpilah dan Daur Ulang Kaleng dan Kemasan (1997). Mengingat masalah penanganan sampah kita yang kurang baik dan sudah seringkali menimbulkan masalah sosial dan lingkungan, maka adanya inisiatif Pemerintah dan masyarakat untuk menggiatkan aktivitas daur ulang yang didukung dengan adanya undang-undang tentang pengelolaan sampah dan daur ulang sebenarnya sudah menjadi suatu kebutuhan yang mendesak saat ini.

 

Bahan plastik yang sebenarnya hingga saat ini telah memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia, pada akhirnya malah dibebani citra buruk ”tidak ramah lingkungan” karena bertebarannya sampah plastik dimana-mana. Sampah-sampah plastik yang bertebaran ini termasuk dalam kategori sampah plastik yang sudah terkontaminasi oleh kotoran, sehingga mempersulit (mempermahal biaya) proses daur ulangnya, sehingga menjadikannya tidak ekonomis untuk didaur ulang. Jika saja dilakukan pemisahan atas sampah di rumah-rumah, maka jenis sampah yang terkontaminasi kotoran semacam ini akan dapat dikurangi secara drastis. Sehingga sebagian besar sampah plastik akan dapat dengan mudah di daur ulang. Sebenarnya ini adalah tanggungjawab seluruh masyarakat untuk mengelola sampah-sampah plastik tersebut, karena daur ulang tidak mungkin dilakukan tanpa kerjasama yang baik oleh masyarakat. Ada sementara pihak yang mengusulkan pengurangan penggunaan bahan plastik sebagai suatu solusi bagi masalah yang ditimbulkan oleh sampah plastik. Sebenarnya solusi semacam itu tidak menyentuh akar dari permasalahan yang sesungguhnya. Jika kita amati, tingkat konsumsi bahan plastik perkapita di suatu negara adalah sebanding dengan pendapatan perkapita negara tersebut. Artinya dengan semakin majunya suatu negara maka otomatis tingkat konsumsi bahan plastik akan meningkat, karena bahan plastik adalah kebutuhan dasar masyarakat modern yang telah menyumbang pada perbaikan tingkat kesehatan, higienis, kemudahan dan kenyamanan hidup masyarakat. Tingkat konsumsi plastik  PVC  di Indonesia pertahun saat ini adalah 1,45 kg per kapita (data tahun 2007), hanya sedikit lebih tinggi dibanding negara-negara miskin di Afrika. Angka ini masih 4 kali lebih rendah dari Thailand (5,97 kg per kapita) dan 7 kali lebih rendah dibandingkan Malaysia (10,4 kg per kapita) (data tahun 2004). Dan tingkat konsumsi plastik PVC tertinggi adalah di Eropa Barat (14,1 kg per kapita) dan Amerika Serikat (15,5 kg per kapita) (data tahun 2004). Sementara tingkat konsumsi plastik jenis lain di negara-negara tersebut kurang lebih proporsional dengan tingkat konsumsi PVC tersebut.

Mengurangi konsumsi plastik berarti membawa kita setingkat atau bahkan lebih rendah dari negara-negara miskin di Afrika. Sementara itu negara-negara Eropa mampu ”berdamai” dengan tingkat konsumsi plastik yang begitu tinggi (14,1 kg per kapita) disebabkan karena proses daur ulang plastik telah dilakukan secara intensif di negara-negara tersebut, sehingga sampah plastik tidak menjadi masalah. Di negara-negara dengan tingkat daur ulang plastik yang baik, bahan plastik justru menjadi sahabat masyarakat karena telah diakui luas manfaatnya selama ini.

(Indratmoko)

 



Logo Daur Ulang Plastik
27 Juni 2008, 2:03 pm
Filed under: Isu Kesehatan

Menanggapi tulisan yang ditayangkan di:

http://akuinginhijau.wordpress.com/2008/03/16/hati-hati-dengan-bahaya-plastik-pelajari-sebelum-terlambat/

Berikut ini sedikit komentar dan ulasan.

Simbol-simbol yang ditampilkan diartikel tersebut sebenar-benarnya adalah untuk kepentingan proses daur ulang bahan-bahan tersebut, dan bukan untuk mendiskriminasikan beberapa jenis plastik dibanding yang lainnya. Jadi saya kurang setuju dengan semangat yang tersirat dalam artikel tersebut. Pada bentuk aslinya, simbol-simbol tersebut memiliki warna yang sama. Dan pada kenyataannya, masing-masing bahan ini telah banyak menyumbangkan perbaikan bagi kondisi hidup manusia selama beberapa dekade terakhir.

Sebenarnya popularitas bahan plastik secara umum disebabkan karena sifatnya yang cocok utk banyak aplikasi dan ekonomis. Kita ambil contoh, pipa plastik PVC misalnya, sudah lama menggantikan banyak porsi yang dulu ditempati pipa besi. Selain memenuhi standar kekuatan utk banyak aplikasi pipa, PVC juga jauh lebih murah, proses produksinya lebih bersih (polusi minimal), beratnya yang ringan juga menghemat ongkos transportasi, menghemat konsumsi BBM serta mengurangi emisi gas buang selama transportasi. Singkatnya, jauh lebih ramah terhadap lingkungan.

Masalah isu-isu bahwa bahan plastik mengandung racun, sebaiknya kita berhati-hati menyebarkannya. Masalah kandungan bahan plastik itu sudah lama diatur dalam regulasi di banyak negara. Di Amerika ada FDA, di Uni Eropa ada EU Directives yang mengatur apa kandungan yang dibolehkan ada dalam plastik dan dalam jumlah berapa banyak. Belum lagi berbagai inisiatif dari pihak industri maupun pemerintah, seperti REACH, RoHS dan lain-lain yang berusaha melindungi masyarakat umum dari kemungkinan paparan zat-zat yang dapat mengganggu kesehatan manusia.

Seperti kita tahu dalam ilmu toksikologi, kita bukan hanya berbicara tentang potensi bahaya dari suatu zat, tapi harus juga menyebutkan suatu jumlah kandungan/paparan maksimum yang bisa ditolerir dan dijamin keamanannya bagi kesehatan manusia. Karena, kandungan/paparan yang sangat rendah dapat menjadikan zat apapun menjadi tidak beresiko terhadap kesehatan manusia. Sebaliknya bahan yang umum dikonsumsi seperti gula dan garam, jika dikonsumsi dalam jumlah terlalu banyak akan dapat membahayakan kesehatan manusia. Di internet bahkan banyak pihak yang mengkampanyekan agar orang tidak mengkonsumsi gula, karena konsumsi gula berlebihan telah terbukti mampu membunuh banyak manusia secara perlahan, melalui berbagai penyakit yang diakibatkan oleh konsumsi gula yang berlebihan.

Jadi jika kita meributkan zat-zat yang terkandung dalam plastik dan menganggapnya berbahaya bagi kesehatan, tanpa menyinggung-nyinggung standar yang berlaku secara internasional, maka kita sebenarnya telah mementahkan kembali studi intensif yang sudah puluhan tahun berlangsung tentang keamanan penggunaan bahan-bahan aditif dalam plastik atau sisa-sisa bahan baku yang masih tersisa di dalam plastik. Sebenarnya sumbangan bahan plastik kepada umat manusia tidak sedikit, bahkan berjasa memperbaiki tingkat higienis dan kesehatan manusia. Pembungkus plastik, misalnya, jika dibandingkan dengan daun pisang yg rawan kontaminasi, atau bahan-bahan pembungkus tradisional lainnya yang rawan kontaminasi, telah berjasa membuat manusia lebih sehat. Dengan jasa pembungkus plastik juga makanan bisa disimpan dan diawetkan lebih lama, jika tidak akan lebih banyak krisis pangan karena kesulitan dalam pendistribusian makanan ke tempat-tempat yang jauh. Pipa air plastik itu sangat tahan lama, bahkan ada yang sudah berusia 40 tahun masih berfungsi sampai sekarang. Sangat tahan lama, tidak berkarat, tidak ada resiko masuknya kontaminasi ke air bersih karena kekuatannya yang baik dan tidak berkarat sehingga tidak bocor dan terbukti selama 40 tahun bisa melayani masyarakat. Sebenarnya karena sumbangan-sumbangan seperti inilah tingkat pengharapan hidup manusia makin panjang. Manusia sekarang kan sudah jauh lebih sehat dibanding zaman dulu.

Seperti kita tahu, industri bahan plastik adalah industri global yang mata rantainya (pembelian bahan baku dan penjualan produknya) saling berhubungan secara global dan yang terikat dengan trend global ttg keamanan penggunaan aditif-aditif yang digunakan.

Akhirnya, kemajuan peradaban selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah dihasilkan sebelumnya. Jika kita berusaha membangun sesuatu tanpa merujuk pada pengetahuan/penelitian ilmiah yang sudah dilakukan, saya khawatir kita justru menuju pada kemunduran, bukannya kemajuan.

Sekian,

Indratmoko

 



Tanya Jawab tentang Phthalate
16 Oktober 2007, 9:50 am
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Kesehatan

Tanya:

Apakah phthalate itu?

Jawab:

Phthalate adalah sekelompok zat yang banyak digunakan dalam produk sehari-hari. Phthalate tidak berwarna, kekentalannya mirip minyak goreng, sedikit atau tanpa bau serta tidak mudah menguap.

 

Tanya:

Apa saja kegunaan phthalate?

Jawab:

Sekitar 12 jenis phthalate yang digunakan di seluruh dunia saat ini terkandung dalam ribuan jenis produk. Aplikasi utama dari phthalate adalah sebagai aditif yang berfungsi melunakkan PVC dan membuatnya menjadi fleksibel, tanpa mengorbankan kekuatan bahan PVC. Phthalate digunakan sebagai pelunak (plasticizer) dalam produk mainan anak-anak, mobil dan banyak produk-produk lain yang terdapat di rumah-rumah maupun di rumah sakit. Misalnya, phthalate merupakan aditif penting dalam pembuatan peralatan medis dari bahan PVC yang banyak manfaatnya dalam menyelamatkan jiwa manusia. Phthalate jenis yang lain banyak digunakan dalam formulasi parfum dan berbagai produk-produk perawatan kecantikan dengan fungsi untuk membuat keharumannya bertahan lebih lama. Phthalate jenis yang lain lagi berfungsi untuk mencegah rusaknya berbagai jenis lapisan coating pada berbagai jenis produk.

 

Tanya:

Apa kah phthalate aman digunakan?

Jawab:

Badan-badan pembuat kebijakan produk industri dan juga badan-badan independen telah menyimpulkan bahwa phthalate aman digunakan sebagai plasticizer PVC dan dalam produk-produk perawatan kecantikan. Tidak pernah ada bukti terpercaya yang menunjukkan bahwa phthalate pernah  membawa kerugian kepada manusia selama sejarah penggunaannya yang sudah berjalan selama 50 tahun. Phthalate merupakan satu diantara beberapa jenis zat kimia yang paling banyak dipelajari, sehingga sangat banyak infomasi tentang zat ini yang tersedia bagi masyarakat umum berkenaan dengan keamanan penggunaan zat ini dalm kehidupan sehari-hari.

 

Tanya:

Siapa bilang phthalate aman digunakan?

Jawab:

Uni Eropa telah melakukan tinjauan extensif terhadap keamanan penggunaan phthalate dari jenis yang paling banyak digunakan saat ini. Mereka menemukan bahwa phthalate bukanlah zat yang patut dikhawatirkan menimbulkan resiko kesehatan bagi manusia dalam berbagai penggunaannya sejauh ini. Tinjauan tersebut secara spesifik juga mencakup penggunaan phthalate dalam mainan anak-anak dan dalam cat/pelapis kuku.

US Consumer Product Safety Commission juga menyimpulkan bahwa zat phthalat yang banyak digunakan dalam produk mainan anak-anak adalah tidak terbukti dapat menimbulkan resiko kesehatan pada anak-anak.

 

Tanya:

Saya dengar phthalate menyebabkan masalah kesehatan ketika diuji pada hewan percobaan?

Jawab:

Beberapa jenis phthalate (tidak semua) memang diketahui mengganggu sistem reproduksi tikus jantan ketika tikus tersebut mengkonsumsi phthalate dalam jumlah besar. Dosis ini jauh lebih besar dibanding yang mungkin masuk ke dalam tubuh manusia dalam kehidupan sehari-hari. Efek negatif pada tikus ini tidak lah berarti hal tersebut juga akan terjadi pada manusia, karena tikus dan manusia memiliki metabolisme yang sangat berbeda. Ketika phthalate dipaparkan kepada hewan mamalia yang paling kecil (marmoset), ternyata samasekali tidak ada gangguan kesehatan yang ditemukan pada hewan tersebut, sedangkan metabolisme Marmoset lebih menyerupai metabolisme tubuh manusia.

 

Tanya:

Apa sebenarnya yang terjadi pada tikus yang mengkonsumsi phthalate tersebut?

Jawab:

Para peneliti meyakini bahwa pemaparan beberapa jenis phthalate dalam dosis yang extrem tinggi kepada tikus menyebabkan tertekannya produksi hormon testosterone yang dibutuhkan untuk perkembangan sistem reproduksi jantan.

Ada dua hal penting yang menyebabkan studi ini tidak relevan bagi manusia:

  1. Besarnya dosis phthalate yang menyebabkan gangguan sistem reproduksi pada tikus adalah jauh lebih besar dibandingkan dengan tingkat paparan yang mungkin masuk ke tubuh manusia dari penggunaan produk sehari-hari.
  2. Terlebih lagi, hingga saat ini samasekali tidak ditemukan bukti-bukti bahwa mekanisme yang terjadi pada tikus juga terjadi pada manusia.

 

Tanya:

Apakah hal yang terjadi pada tikus bisa terjadi juga pada manusia?

Jawab:

Tidak ada bukti bahwa itu bisa terjadi pada manusia. Ada beberapa bukti bahwa hal itu tidak terjadi pada manusia. Sebuah studi dilakukan terhadap anak-anak yang mengalami kondisi kritis ketika baru dilahirkan sehingga harus menggunakan peralatan medis PVC yang mengandung phthalate dan karenanya anak-anak tersebut terpapar oleh phthalate dalam jumlah yang cukup besar. Studi tersebut mencatat bahwa kondisi anak-anak tersebut yang kini sudah mencapai usia remaja sangat sehat dan normal.

 

Tanya:

Apakah ada bukti-bukti bahwa phthalate tidak memberi efek buruk kepada manusia?

Jawab:

Test-test yang dilakukan terhadap marmoset, yang termasuk golongan primate seperti manusia, menyimpulkan bahwa bahkan dengan dosis yang sangat tinggi yang diberikan pada marmoset semenjak lahir hingga mencapai usia yang matang secara seksual (usia dimana semua organ reproduksinya sudah tumbuh sempurna) ternyata tidak menimbulkan efek apapun terhadap perkembangan organ-organ reproduksinya.

Sebuah studi yang lain menyimpulkan bahwa manusia tidak dapat menyerap phthalate, sementara tikus-tikus sangat mudah menyerap phthalate. Manusia bias mencerna phthalate dan membuangnya segera melalui saluran pembuangan. Bukti-bukti ini menguatkan bahwa efek negative dari phthalate yang terjadi pada tikus tidak terjadi pada manusia,

 

Tanya:

Bukankah studi mutakhir menunjukkan bahwa phthalate mempengaruhi fungsi perkembangan seksual manusia?

Jawab:

The National Institutes of Health melalui “Program Toksikologi Nasional”-nya telah melakukan tinjauan terhadap semua studi yang mengklaim adanya efek phthalate terhadap manusia, dan pada akhir 2006 mereka menyatakan bahwa semua studi tersebut tidak menunjukkan cukup bukti untuk dapat disimpulkan secara benar.

Semua studi yang disebutkan diatas bersifat statistik, mereka mengklaim menemukan korelasi antara paparan phthalate dan dampak-dampak tertentu terhadap kesehatan manusia. Akan tetapi dalam studi tersebut banyak terjadi penyimpangan dan dalam kasus ini banyaknya penyimpangan membuat kesimpulan yang ditarik dari  studi tersebut sangat diragukan kebenarannya. Juga, tak ada satupun dari studi yang disebutkan diatas mengklaim bahwa phthalate menyebabkan efek negatif pada kesehatan manusia. Mereka hanya mengatakan bahwa phthalate secara statistik memiliki korelasi terhadap efek-efek tersebut. Korelasi-korelasi semacam itu sangat mungkin merupakan fluktuasi statistic belaka.

 

Tanya:

Apakah demikian juga dengan studi oleh Swan?

Jawab:

Yang pasti, banyak expert meragukan studi tersebut. Studi oleh Swan mengklaim bahwa ada terjadi perubahan (bukan kerusakan) pada perkembangan proses reproduksi bayi-bayi, yang diduga diakubatkan terpaparnya para ibu bayi oleh campuran dari 4 jenis phthalate. Dr.Rebecca Goldin, seorang Ph.D. bidang Matematika yang bekerja pada Statistical Assessment Services (STATS), ketika ditanya komentarnya tentang sudi Swan, malah balik bertanya, “berapa banyak data tersebut harus di-otak-atik agar bisa ditemukan kesimpulannya?” Para ahli yang lain mempertanyakan dan mengkritik studi tersebut dari segi metodologinya, data klinisnya, dan bahkan keabsahan logikannya dari sudut pandang ilmu Biologi.

 

Tanya:

Bukankah phthalate bisa mengganggu fungsi endocrine/hormon?

Jawab:

Pada uji laboratorium terhadap tikus, phthalate tidak menghambat aksi kerja hormon jantan maupun betina. Efek dari paparan phthalate terhadap tikus juga terbukti tidak menyerupai efek kerja hormone-hormon tersebut.

 

Tanya:

Bukankah phthalate menyebabkan kanker?

Jawab:

The International Agency for Research on Cancer, yang merupakan anak organisasi dari WHO, telah menyatakan pada tahun 2000 bahwa DEHP atau yang popular disebut dengan nama DOP “tidak dapat digolongkan” sebagai zat pemicu kanker pada manusia. Dasar dari kesimpulan tersebut adalah adanya cukup bukti bahwa proses biologis yang memicu terjadinya kanker pada tikus  ternyata tidak terdapat pada tubuh manusia.

 



Phthalate Dalam Produk Peralatan Medis
16 Oktober 2007, 9:39 am
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Isu Kesehatan

Penggunaan phthalate dalam produk-produk peralatan medis telah merevolusi teknik penyimpanan dan pentransfusian darah kepada pasien.

  • Kantong darah yang terbuat dari PVC dengan phthalate (DEHP atau DOP) sebagai plasticizer (pelunak) telah menggantikan penggunaan botol-botol dari gelas semenjak tahun 1950-an.
  • Kantong darah PVC yang bersifat transparan, kuat, mudah disterilisasi, tahan goncangan dan tahan banting serta fleksibel hingga saat ini tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan dan mendistribusian darah kepada pasien yang memerlukannya.
  • Kantong darah PVC mampu menggandakan masa simpan darah dari 21 hari jika menggunakan bahan lain menjadi 42 hari. Menggunakan kantong darah dari PVC, darah dapat disimpan lebih jauh lama, yang merupakan kontribusi ini sangat penting artinya dalam mengurangi tekanan terhadap banyaknya permintaan darah.

Selang-selang dari PVC dan juga peralatan medis lain yang terbuat dari PVC yang mengandung DEHP (DOP) merupakan peralatan yang sangat penting dalam dunia medis, khususnya pada situasi-situasi yang kritis.

  • Selang PVC yang diplastisasi dengan DEHP (DOP) merupakan pilihan yang utama bagi pasien-pasien cuci darah maupun pasien penetima cairan intravenous, karena bahan ini kuat, transparan, tidak kempot serta akan kembali ke bentuk semula juka tertarik atau tertekan. Sifat-sifat diatas sangat penting untuk menjamin kelancaran aliran cairan-cairan medis tersebut dan kemudahan dalam memonitornya.
  • Hingga saat ini selang dan peralatan medis yang terbuat dari PVC merupakan perlengkapan yang digunakan untuk meng-oksigenisasi darah dari bayi-bayi yang dalam kondisi kritis ketika baru saja dilahirkan.

Kualitas selang medis serta berbagai peralatan medis lainnya yang terbuat dari PVC yang di-plastisasi dengan phthalate telah lama diatur sesuai standar-standar kesehatan dan keamanan nasional dan internasional.

  • FDA meregulasi penggunaan produk-produk ini dan memberi catatan bahwa bahan ini telah digunakan bertahun-tahun dalam dunia medis “tanpa terbukti menyebabkan gangguan pada kesehatan”.
  • Akar dari wacana kekhawatiran terhadap efek paparan DEHP (DOP) adalah sebuah studi pada tikus-tikus, dimana ke dalam tubuh tikus-tikus tersebut dimasukkan DEHP (DOP) dalam dosis yang tinggi. Namun efek-efek yang terjadi pada tikus samasekali belum pernah terjadi pada manusia. Telah diketahui luas bahwa metabolisme tikus adalah sangat berbeda dengan metabolisme manusia yang menyebabkan seringkali tidak ada korelasi antara efek dikonsumsinya suatu zat terhadap tikus dan terhadap manusia.

 



Diisononyl Phthalate (DINP) – Mainan dari Bahan PVC dan Kesehatan
12 Oktober 2007, 3:57 pm
Filed under: Aplikasi/Penggunaan, Formulasi, Isu Kesehatan

Diisononyl Phthalate (DINP) adalah termasuk kandungan utama dalam formulasi bahan PVC untuk mainan anak-anak. Fungsi DINP adalah untuk membuat mainan tersebut lunak, fleksibel dan murah, selain juga untuk menjamin tingkat keamanan dalam penggunaannya.

  • DINP adalah zat pelunak/plasticizer PVC pilihan utama perusahaan-perusahaan pembuat mainan anak-anak di Amerika Serikat karena keefektifannya serta harganya ayng ekonomis.
  • DINP telah digunakan dalam formulasi bahan PVC untuk produk mainan anak-anak semenjak puluhan tahun yang lalu.
  • The US Consumer Product Safety Commission (Komisi Negara untuk Keamanan Produk – Amerika Serikat) telah memberi rekomendasi: “Jika DINP dalam mainan anak-anak harus digantikan, resiko yang dibawa oleh bahan penggantinya harus juga dipertimbangkan baik-baik. Bahan plastic pengganti PVC yang sifatnya lebih keras dan mudah pecah justru dapat membahayakan anak karena pecahan tersebut beresiko tertelan oleh anak. Sementara kalau plasticizer lain akan digunakan menggantikan DINP, plasticizer-plasticizer selain DINP belumlah banyak diuji dan diteliti seperti halnya DINP”.

 

Tinjauan-tinjauan independent tentang keamanan penggunaan DINP telah menyimpulkan bahwa bahan ini aman digunakan dalam produk mainan anak-anak.

  • The US Consumer Product Safety Commission telah menghabiskan waktu 4 tahun untuk mempelajari DINP dan telah melakukan riset orisinil untuk mempelajari berapa lama dan berapa sering sebenarnya anak-anak memasukkan mainan ke dalam mulutnya. Mereka menyimpulkan bahwa “tidak diamati adanya resiko terhadap kesehatan” dari digunakannya DINP dalam mainan anak-anak dan “tidak ada justifikasi” untuk melarang penggunaan DINP dalam mainan anak-anak.
  • Suatu tinjauan keamanan oleh Komisi Eropa, yang dilaksanakan atas perintah European Chemical Bureau, telah menemukan bahwa penggunaan DINP dalam produk sehari-hari, termasuk mainan anak-anak, “tidak menimbulkan resiko kesehatan bagi orang dewasa, balita maupun bayi-bayi yang baru dilahirkan”.
  • The National Toxicology Program (Program Toksikologi Nasional”, yang merupakan program kerja dari US National Institutes of Health, telah menyatakan “kekhawatiran yang minimum” terhadap digunakannya DINP dalam mainan anak-anak.
  • Data dari Centers for Decease Control and Prevention (Pusat-Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menunjukkan bahwa jumlah rata-rata paparan DINP terhadap manusia nilainya jauh dibawah ambang batas yan gtelah ditentukan oleh EPA (US Environmental Protection Agency).

 

Tidak ada klaim yang dapat dipercaya tentang adanya efek negatif terhadap kesehatan yang disebabkan oleh paparan suatu jenis phthalate maupun campuran dari beberapa jenis phthalate.

  • Jumlah rata-rata paparan phthalate terhadap penduduk Amerika Serikat adalah jauh nilainya dibawah ambang batas yang dianggap aman oleh Pemerintah, ketika paparan phthalate terhadap banyak orang dijumlahkan, nilainya masih juga lebih kecil dari ambang batas aman yang ditentukan Pemerintah.
  • Tidak ada studi yang mengklaim adanya hubungan antara paparan DINP dan efeknya terhadap manusia.
  • Efek kesehatan yang diamati pada tikus-tikus disebabkan oleh dosis phthalate yang besarnya jauh diatas jumlah yang mungkin terjadi dalam kehidupan nyata manusia sehari-hari, seperti yang pernah dihitung oleh CDC (Centers for Decease Control and Prevention).

 



Phthalate dan Kesehatan Anda
9 Oktober 2007, 1:26 pm
Filed under: Isu Kesehatan

Klaim 1: Phthalate menyebabkan penyakit kanker

Pada tahun 1980-an, beberapa jenis phthalate didemonstrasikan sebagai penyebab kanker hati pada tikus, ketika tikus-tikus tersebut diberi paparan phthalate dalam dosis yang tinggi dan dalam jangka waktu yang lama.

Akan tetapi riset selanjutnya menunjukkan bahwa kanker pada tikus-tikus tersebut disebabkan oleh suatu proses biologis yang spesifik terjadi dalam tubuh tikus, akan tetapi tidak terjadi pada tubuh manusia.

Pada tahun 2000, International Agency for Research on Cancer (IARC, yang merupakan organisasi resmi di bawah WHO) telah mengumumkan bahwa DOP/DEHP, jenis phthalate yang paling banyak digunakan, tidak digolongkan sebagai zat pemicu kanker pada manusia.

 

Klaim 2: Phthalate menyebabkan gangguan reproduksi

Phthalat dalam dosis tinggi yang dimasukkan dalam tubuh tikus telah diketahui mengganggu system reproduksi tikus jantan. Efek ini diyakini disebabkan karena terganggunya produksi hormone testosterone.

Beberapa studi mengklaim bukti adanya hubungan antara paparan phthalate dan efek gangguan system reproduksi pada manusia. Beberapa dari studi-studi yang paling banyak dirujuk tersebut, ketika ditinjau oleh tim peneliti yang ditunjuk pihak pemerintah, ternyata memiliki banyak kelemahan dalam metodologinya sehingga studi tersebut dinyatakan tidak memiliki cukup data untuk bisa disimpulkan.

Sementara itu beberapa riset menyimpulkan bahwa efek gangguan system reproduksi yang diamati pada tikus adalah tidak relevan bagi manusia, seperti juga yang terjadi pada mekanisme terjadinya kanker pada tikus.

Studi lain menunjukkan bahwa dosis phthalate yang tinggi yang dimasukkan ke dalam tubuh marmoset (sejenis kera kecil) ternyata samasekali tidak mengganggu system reproduksinya. Studi lain menunjukkan bahwa marmoset (yang merupakan mamalia seperti manusia, sehingga system reproduksinya lebih mewakili system reproduksi manusia) ternyata tidak mudah menyerap phthalate, sementara tikus sangat mudah menyerap phthalate. Pada mamalia, phthalate dengan mudah dihancurkan dalam proses metabolisme dan dengan cepat dibuang keluar dari tubuh.

 



Sekilas tentang Phthalate
9 Oktober 2007, 1:24 pm
Filed under: Isu Kesehatan

Apakah Phthalate?

Phthalate adalah sekelompok zat kimia yang dibuat dari reaksi esterifikasi antara alcohol dan phthalic anhydride. Phthalate berwujud seperti minyak, tak berwarna/bening, tanpa baud an tidak mudah menguap.

Penggunaan phthalate yang utama adalah sebagai aditif pelunak (plasticizer) bahan PVC dan telah menjadi bagian penting dari kehidupan kita sehari-hari. Penggunaan phthalate dalam peralatan medis, mainan anak-anak, berbagai bagian mobil, berbagai produk kebutuhan rumah tangga, membuat hidup kita lebih baik dan lebih aman. Penggunaan phthalate di rumah sakit dan di ruang gawat darurat khususnya, telah banyak menyelamatkan jiwa manusia. Phthalat membuat rumah kita penuh dekorasi, lebih mudah dibersihkan, lebih efisien dalam penggunaan energi serta lebih tahan lama. Produk-produk PVC lunak yangmengandung phthalate memiliki sifat-sifat yang unggul dan sangat ekonomis, karenanya fungsinya sangat sulit digantikan oleh behan-bahan dari jenis lain. Phthalate merupakan pilihan yang paling ekonomis dan tepat guna bagi konsumen.

Beberapa jenis phthalate memberikan keuntungan yang unik bagi industri perawatan kecantikan.

Selama lebih dari 50 tahun, phthalate merupakan bahan baku penting dalam industri parfum dan cat kuku. Salah satu jenis phthalate berfungsi mengikat molekul zat pembawa aroma harum dalam formulasi produk parfum dan produk-produk kecantikan pada umumnya, yang membuat aroma harumnya menjadi tahan lebih lama. Fungsi lain dari phthalate adalah sebagai aditif dalam formulasi rambu atau tanda yang ditempatkan di alam terbuka, yang membuatnya tidak mudah retak/rusak.

Banyak studi independent yang telah dilakukan, yang menyimpulkan bahwa phthalate aman digunakan dalam produk mainan anak-anak dan kosmetika.

Review tentang keselamatan kerja yang dilakukan oleh beberapa komite ilmuwan Eropa dan Amerika telah secara spesifik membolehkan penggunaan phthalate dalam produk-produk mainan anak-anak dan cat kuku. Tidak pernah ada review yang dilakukan pihak pemerintah yang menyimpulkan bahwa phthalate tidak aman untuk digunakan dalam produk sehari-hari.

Setelah lebih dari 50 tahun digunakan secara luas, tidak pernah ada bukti yang menunjukkan bahwa phthalate merugikan kesehatan manusia.



9 Sumber Kesalahfahaman tentang Bahan PVC
5 Oktober 2007, 11:04 am
Filed under: Isu Kesehatan, Isu Lingkungan Hidup

1.  Analisa Daur Hidup – Life Cycle Analysis (LCA)

Banyak pakar sepakat bahwa untuk benar-benar memahami dampak lingkungan dari penggunaan suatu produk, seluruh daur hidup produk tersebut harus dievaluasi secara seksama. Inilah yang disebut Analisa Daur Hidup.

Efek-efek lingkungan yang diakibatkan oleh proses produksi suatu produk dengan berjalannya waktu dapat dikompensasi atau diimbangi dengan usia pakai yang panjang, manfaat yang besar dari digunakannya produk tersebut serta dampak lingkungan yang rendah atas penggunaan produk tersebut. Misalnya, untuk kasus jendela PVC, emisi yang terjadi selama proses pembuatan produk ini ternyata tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan keuntungan yang didapat selama puluhan tahun karena penggunaan jendela PVC: penghematan energi.

  • Produk-produk dari bahan PVC unggul dalam efisiensi energi, kapasitas isolasi termal, kontribusi yang rendah terhadap efek rumah kaca, kemudahan perawatan dan usia pakai yang panjang (tahan lama).
  • Hasil studi terbaru tentang daur hidup produk PVC di sektor konstruksi bangunan menyatakan bahwa dampak lingkungan dan kesehatan dari digunakannya produk PVC sama atau lebih kecil dibanding kebanyakan bahan-bahan lain.

2. Keselamatan Kerja

Pada tahun 1973, dokter-dokter di suatu pabrik VCM (vinyl chloride monomer, bahan baku utama PVC) menemukan beberapa kasus suatu jenis kanker hati yang langka yang diidap beberapa pekerja disitu. Dalam masa dua tahun sesudahnya US Occcupational Safety and Health Administration (OSHA) dan US Environmental Protection Agency (EPA) mengeluarkan regulasi untuk mengurangi paparan terhadap bahan kimia dan emisi bahan kimia ke lingkungan sekitar. Untuk memenuhi tuntutan ini industri PVC di seluruh dunia merekayasa-ulang proses produksinya.

  • Tidak ada lagi kasus terdokumentasi tentang pengidap kanker di kalangan pekerja di industri VCM dan PVC yang karirnya dimulai semenjak diresmikannya regulasi tersebut.

3. Vinyl Chloride Monomer (VCM)

EPA memperkirakan bahwa emisi VCM di industri PVC telah ditekan sebanyak lebih dari 99% semenjak tahun 1970-an. Lebih jauh lagi, tidak ditemui adanya catatan kasus dimana ada anggota masyarakat dirugikan karena paparan VCM.

4. Dioxin

PVC merupakan sumber dioxin yang sangat rendah, begitu rendahnya hingga kadar dioxin di lingkungan sekitar kita pada dasarnya tidak berubah jika semua pabrik PVC ditutup dan semua produk PVC tidak digunakan lagi di seluruh dunia. Di lain pihak justru banyak sekali manfaat penting yang didapat dari penggunaan PVC di seluruh dunia selama ini.

Akan tetapi industri PVC tetap terus menerus mengupayakan pengurangan dihasilkannya dioxin, pada saat ini proses produksi PVC hanya menghasilkan beberapa gram dioxin saja per tahun.

Sumber dioxin yang utama diantaranya kebakaran hutan, gunung meletus, pembakaran kayu di perapian, emisi kendaraan bermotor dan proses pembuatan bahan bangunan yang lain.

Menurut data dari EPA, tingkat emisi dioxin selalu menurun sepanajng 30 tahun terakhir, sementara volume produksi PVC telah meningkan menjadi tiga kali lipat pada jangka waktu yang sama.

Menurut EPA:

  • Porsi emisi dioxin oleh industri PVC adalah sangat kecil, hanya 0.5% dari total emisi dioxin.

5. Pengisian tanah (Landfill)

Produk-produk dari bahan PVC bersifat sangat tahan terhadap kondisi korosif yang terjadi pada landfill dan tidak akan menjadi rusak atau terdegradasi dalam kondisi tersebut. Bahkan PVC seringkali digunakan untuk membuat pembungkus dan penutup bahan-bahan yang ditimbun tersebut karena kestabilannya dan ketahanannya terhadap bahan-bahan yang korosif.

  • Bahan PVC yang berakhir di landfill hanya sekitar 0.6% dari berat total limbah tersebut.
  • Sekitar 18 juta pound limbah berbahan PVC batal dikirim ke landfill dan didaur ulang menjadi produk-produk generasi kedua.

6. Asam Klorida (HCl)

Asam klorida (HCl) adalah produk sampingan dari pembakaran bahan PVC. Dalam situasi kebakaran yang sesungguhnya, kandungan HCl di udara jauh lebih rendah dari batas konsentrasi yang dinyatakan berbahaya bagi manusia. Karena sifatnya yang menimbulkan iritasi dan baunya yang menyengat, HCl yang terbakar justru berfungsi sebagai zat yang memacu orang untuk menjauh dari tempat terjadinya kebakaran.

7.  Phthalate dan Aditif-Aditif yang lain

Sifat-sifat fisik PVC menyebabkan aditif-aditif seperti stabilizer dan antioxidant dengan aman terkurung dalam struktur bahan tersebut dan tidak mudah lepas mencemari manusia dan lingkungan sekitarnya. Akan tetapi yang akhir-akhir ini ramai diberitakan adalah kekhawatiran tentang paparan plasticizer dari jenis phthalate yang banyak digunakan dalam produk PVC yang lunak. Data hasil studi yang telah terakumulasi selama bertahun-tahun menyimpulkan bahwa phthalate tidak menyebabkan gangguan pada kesehatan dan kesejahteraan manusia.

  • Aditif-aditif PVC telah dipelajari selama bertahun-tahun oleh para ilmuwan yang independent, badan-badan pemerintah:serta industri, dan saat ini bahan PVC telah digunakan dengan aman selama lebih dari 50 tahun.

8. Pembakaran sampah (Insinerasi)

PVC dapat dengan aman di-insinerasi dan energi hasil pembakarannya digunakan lagi. Studi skala besar yang dilakukan oleh American Society of Mechanical Engineers (ASME) menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kandungan klorin dalam sampah dan jumlah emisi dioxin yang dihasilkan dalam proses pembakaran sampah tersebut secara terkontrol dalam insinerator.

Studi tersebut menyebutkan bahwa banyak literature ilmiah yang secara jelas telah menyebutkan bahwa kondisi operasi pembakaran adalah factor terpenting yang menyebabkan terjadinya dioxin.

9. Klorin

PVC tidak menyebabkan pencemaran udara.karena gas klorin yang digunakan untuk membuat PVC terkunci rapat secara kimiawi dalam struktur bahan PVC. Juga ketika PVC didaur ulang, dimanfaatkan sebagai pengisi tanah (landfill), ataupun dibakar dalam incinerator modern, emisi gas klorin ke lingkungan tidak terjadi.

 



Phthalate Dalam Produk Peralatan Medis
5 Oktober 2007, 11:00 am
Filed under: Isu Kesehatan

Penggunaan phthalate dalam produk-produk peralatan medis telah merevolusi teknik penyimpanan dan pentransfusian darah kepada pasien:

  • Kantong darah yang terbuat dari PVC dengan phthalate (DEHP atau DOP) sebagai plasticizer (pelunak) telah menggantikan penggunaan botol-botol dari gelas semenjak tahun 1950-an.
  •  Kantong darah PVC yang bersifat transparan, kuat, mudah disterilisasi, tahan goncangan dan tahan banting serta fleksibel hingga saat ini tetap menjadi pilihan utama untuk penyimpanan dan mendistribusian darah kepada pasien yang memerlukannya.
  • Kantong darah PVC mampu menggandakan masa simpan darah dari 21 hari jika menggunakan bahan lain menjadi 42 hari. Menggunakan kantong darah dari PVC, darah dapat disimpan lebih jauh lama, yang merupakan kontribusi ini sangat penting artinya dalam mengurangi tekanan terhadap banyaknya permintaan darah.

 

Selang-selang dari PVC dan juga peralatan medis lain yang terbuat dari PVC yang mengandung DEHP (DOP) merupakan peralatan yang sangat penting dalam dunia medis, khususnya pada situasi-situasi yang kritis.

  • Selang PVC yang diplastisasi dengan DEHP (DOP) merupakan pilihan yang utama bagi pasien-pasien cuci darah maupun pasien penetima cairan intravenous, karena bahan ini kuat, transparan, tidak kempot serta akan kembali ke bentuk semula juka tertarik atau tertekan. Sifat-sifat diatas sangat penting untuk menjamin kelancaran aliran cairan-cairan medis tersebut dan kemudahan dalam memonitornya.
  • Hingga saat ini selang dan peralatan medis yang terbuat dari PVC merupakan perlengkapan yang digunakan untuk meng-oksigenisasi darah dari bayi-bayi yang dalam kondisi kritis ketika baru saja dilahirkan.

 

Kualitas selang medis serta berbagai peralatan medis lainnya yang terbuat dari PVC yang di-plastisasi dengan phthalate telah lama diatur sesuai standar-standar kesehatan dan keamanan nasional dan internasional.

  • FDA meregulasi penggunaan produk-produk ini dan memberi catatan bahwa bahan ini telah digunakan bertahun-tahun dalam dunia medis “tanpa terbukti menyebabkan gangguan pada kesehatan”.
  • Akar dari wacana kekhawatiran terhadap efek paparan DEHP (DOP) adalah sebuah studi pada tikus-tikus, dimana ke dalam tubuh tikus-tikus tersebut dimasukkan DEHP (DOP) dalam dosis yang tinggi. Namun efek-efek yang terjadi pada tikus samasekali belum pernah terjadi pada manusia. Telah diketahui luas bahwa metabolisme tikus adalah sangat berbeda dengan metabolisme manusia yang menyebabkan seringkali tidak ada korelasi antara efek dikonsumsinya suatu zat terhadap tikus dan terhadap manusia.

 

 



Fakta Seputar Bahan PVC
24 September 2007, 11:17 am
Filed under: Isu Kesehatan

Resin PVC

1.   Bahan baku yang diperlukan untuk pembuatan resin PVC adalah gas chlorine dan ethylene. Gas chlorine didapat dari garam dapur, dan ethylene dihasilkan dari minyak bumi. Porsi chlorine adalah 57% dari keseluruhan berat PVC, jadi PVC termasuk bahan plastik dengan ketergantungan yang rendah terhadap minyak bumi yang ketersediaannya kian hari kian menipis.

2.  Pembuatan PVC memerlukan sangat sedikit energi. Studi menunjukkan bahwa energi yang digunakan untuk memproduksi PVC jauh lebih kecil dibanding energi yang digunakan untuk memproduksi bahan-bahan jenis lain. Pembuatan PVC hanya memerlukan 40% dari energi yang diperlukan untuk memproduksi besi baja dan hanya 13% dari energi yang diperlukan untuk memproduksi aluminium. PVC juga menggunakan paling sedikit komponen minyak bumi dibanding bahan plastik yang lain.

3.  Bahan PVC juga memiliki kontribusi terhadap pelestarian hutan tropis. Jika kayu hutan tropis digunakan sebagai bahan baku pembuatan jendela dan pintu, maka hutan tropis harus dikelola dengan baik untuk menjamin kelestariannya. Jika tidak, yang akan terjadi adalah eksploitasi terus menerus yang mengakibatkan musnahnya hutan tropis. PVC adalah bahan yang populer digunakan untuk produk jendela rumah.

4.    Melalui teknologi bahan-bahan aditif, PVC dapan dibentuk menjadi produk-produk bermanfaat dengan variasi sifat yang sangat beragam: keras, lunak dan transparan; menghasilkan produk-produk yang begitu beragam, mulai dari pipa dengan berbagai ukuran dan spesifikasi kekuatan, peralatan medis, berbagai kemasan makanan maupun non-makanan, kulit imitasi, automotive parts, selang dan kabel, electronics parts, dan lain-lain.

 

Plasticizer (Phthalates)

1.  Phthalates adalah sekelompok zat cair tak berbau yang digunakan sebagai plasticizer, yaitu salah satu additive PVC untuk menghasilkan produk PVC yang bersifat lunak/fleksibel seperti.kulit imitasi, sepatu, taplak meja transparan, dan lain-lain. Jenis plasticizer yang populer digunakan diantaranya DEHP/DOP, DINP, DIDP.

2.   Selain digunakan dalam sebagian produk dari bahan PVC, phthalates juga digunakan dalam produk-produk lain seperti karet, cat, tinta cetak, adhesive, lubricant dan beberapa jenis kosmetika.

3.  Tak ada satupun dari phthalates yang terbukti bersifat karsinogen (dapat menyebabkan penyakit kanker).

4.    Rumor yang juga banyak beredar adalah bahwa phthalates dapat menyebabkan tumor. Sumber dari rumor ini adalah suatu penelitian dimana tikus-tikus diberi makanan yang mengandung DOP dalam jumlah beribu-kali lipat dari yang mungkin terkonsumsi dalam kehidupan sehari-hari seekor tikus. Akibat dari konsumsi DOP dalam jumlah yang luar biasa besar ini adalah timbulnya tumor pada hati tikus. Ketika dalam percobaan lain DOP diberikan kepada beberapa jenis monyet, ternyata tidak mengakibatkan kelainan apapun. Monyet dianggap memiliki metabolisme yang lebih menyerupai metabolisme manusia. Saat ini dunia ilmiah mengakui bahwa phthalates dapat menyebabkan tumor pada tikus melalui mekanisme metabolisme yang tidak terdapat pada tubuh manusia.

5.   Rumor yang beredar juga menyebutkan bahwa phthalate dapat menyebabkan gangguan fungsi hormon, berkurangnya jumlah sperma pada pria dan gangguan reproduksi lainnya. Sumber dari rumor ini adalah suatu hipothesa bahwa ada zat-zat kimia yang dapat menyerupai fungsi hormon wanita (estrogen). Zat-zat inilah yang diduga menyebabkan banyak kasus berkurangnya jumlah sperma pada pria. Akan tetapi hingga hari ini hipothesa tersebut masih berupa hipothesa, tanpa dapat dibuktikan kebenarannya. Banyak studi telah dilakukan pada species tikus, dengan kesimpulan bahwa berbagai jenis phthalates tidak menyebabkan gangguan hormonal.

6.  Penggunaan DEHP/DOP dalam produk peralatan medis telah menjadi sesuatu yang vital bagi industri kesehatan. PVC yang menggunakan plasticizer DEHP telah menjadi pilihan utama dalam banyak aplikasi medis, seperti selang infus, kantung darah dll, karena sifatnya yang transparan, ekonomis, kuat, fleksibel/lunak, mudah disterilisasi dan tidak mengerut. Di Eropa DEHP adalah satu-satunya plasticizer yang penggunaannya direkomendasikan oleh European Pharmacopoeia. Penggunaan DEHP/DOP secara aman selama puluhan tahun dalam dunia medis merupakan bukti keamanan penggunaan bahan ini sehingga seharusnya tak perlu dikhawatirkan lagi.

7.   Phthalates tidak termasuk zat organic yang terakumulasi di lingkungan sekitar. Walaupun phthalates ditemukan tersebar di lingkungan sekitar, tapi jumlahnya amat sedikit karena molekul phthalates di alam terdegradasi oleh cahaya matahari dan juga secara biologis. Saat ini telah banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa phthalates tidak mendatangkan resiko kepada kesehatan manusia maupun kelestarian lingkungan hidup.

8.   Dalam European Union Official Journal (April 2006), Uni Eropa mengumumkan bahwa dua jenis plasticizer yang paling banyak digunakan diisononyl phthalate (DINP) dan diisodecyl phthalate (DIDP) tidak tergolong sebagai zat berbahaya dan tak menimbulkan resiko pada manusia maupun alam sekitarnya.

9.  Petisi yang dilakukan oleh beberapa kelompok Environ- mentalist di Amerika Serikat untuk melarang penggunaan PVC dalam produk mainan anak-anak ternyata ditolak oleh The United States Consumer Product Safety Commission (CPSC) (February 2003). CPSC menyatakan bahwa tak ada bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa penggunaan bahan PVC pada mainan anak-anak dapat menimbulkan resiko kesehatan.

10. Tak ada bahan beracun yang layak dikonsumsi manusia. Segala jenis bahan yang terbukti beracun memang seharusnya dilarang. Sebaliknya, bahan yang bermanfaat yang tidak terbukti beracun selayaknya dapat terus digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat, apalagi bahan tersebut telah digunakan selama puluhan tahun.

 

Links

World Chlorine Council (WCC) : http://www.worldchlorine.org

Japanese Vinyl Environmental Council (VEC): http://www.vec.gr.jp

The Vinyl Institute (VI) – USA: http://www.vinylinfo.org

European Council of Vinyl Manufacturers (ECVM): http://www.ecvm.org

Vinyl Council Australia (VCA): http://www.vinyl.org.au

 



Plastik Pembungkus Makanan, Berbahayakah Untuk Kesehatan?
20 September 2007, 1:45 pm
Filed under: Isu Kesehatan

Tulisan ini merupakan tanggapan atas artikel berjudul “Plastik Pembungkus Makanan Berbahaya Untuk Kesehatan” yang dimuat di harian Suara Merdeka pada tanggal 25 Juli 2007. Ada beberapa informasi yang dirasa kurang tepat dan berpotensi menimbulkan ketakutan secara berlebihan di masyarakat.

Berikut ini informasi-informasi yang dapat ditambahkan berkenaan dengan status keamanan penggunaan bahan-bahan plastik bagi kesehatan.

  1. Bahan plastik sebenarnya bukanlah bahan yang berbahaya bagi kesehatan, jika digunakan sesuai dengan keterbatasan sifat bahan tersebut. Keterbatasan bahan ini utamanya adalah dalam hal ketahanannya terhadap suhu tinggi. Kebanyakan bahan plastik akan melunak jika terpapar suhu mendekati 100 derajat celcius, yakni suhu dimana air mendidih, dan itu akan mengakibatkan kekuatannya berkurang. Namun demikian ada jenis plastik yang memang tahan hingga suhu sekitar 100 derajat celcius, misalnya polistiren dan melamin.
  2. Monomer yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan plastik sering diberitakan sebagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Memang takkan pernah ada plastik kalau tidak ada zat monomer ini. Dan dalam produk akhir plastik memang masih ada kandungan monomernya, tetapi dalam jumlah yang teramat sangat kecil. Sementara factor ada atau tidaknya resiko tidak hanya bergantung pada bahaya atau tidaknya suatu bahan jika dikonsumsi, tetapi yang lebih penting adalah berapa banyak zat tersebut dikonsumsi. Hampir semua zat, bahkan yang kita konsumsi sehari-hari dan yang tidak dikonotasikan sebagai zat berbahaya, pada dasarnya adalah zat yang berbahaya jika dikonsumsi dalam jumlah besar, misalnya garam dan gula. Sebenarnya batas maksimum kandungan monomer dalam berbagai jenis plastik yang umum digunakan sehari-hari sudah diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Batas maksimum kandungan monomer ini sebenarnya sudah menjamin keamanan bahan-bahan plastik dalam penggunaan sehari-hari. Amat sangat disayangkan bahwa artikel-artikel yang memberitakan tentang bahaya penggunaan bahan plastik sebenarnya justru mementahkan kembali aturan SNI yang sudah susah payah dirumuskan berdasarkan berbagai studi dan data-data ilmiah dan juga sudah didasarkan pada peraturan serupa di berbagai negara lain termasuk juga di negara-negara maju.
  3. Dalam artikel tersebut diatas juga disebutkan bahwa “Polivinyl chloride dan vinylidene chloride resin merupakan dioksin, yaitu senyawa kimia yang digolongkan sebagai penyebab utama kanker karena sifatnya yang sangat beracun”. Penyebutan polyvinyl chloride sebagai dioksin adalah sesuatu yang sangat salah. Dioksin yang dikenal di dunia ilmiah adalah sekumpulan zat (mungkin jumlahnya ada sekitar 40 zat atau lebih) yang bersifat sangat stabil atau sulit diolah, sehingga keberadaannya semakin lama semakin menumpuk (terakumulasi) di lingkungan sekitar kita. Berbagai studi ilmiah juga sudah membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara polyvinyl chloride dengan dihasilkannya dioksin di lingkungan, karena dioksin pada dasarnya dihasilkan dimana-mana melalui proses-proses yang biasa terjadi di sekitar kita, terutama pembakaran sampah, pembukaan lahan dan kebakaran hutan. Berbagai studi juga menyimpulkan bahwa sampah yang dibakar, baik dia mengandung polyvinyl chloride ataupun tidak, akan menghasilkan dioksin dalam jumlah yang sama saja. Jadi ada tidaknya polyvinyl chloride dalam sampah tidak mempengaruhi ada tidaknya dioksin dalam hasil pembakaran itu. Mengapa demikian? Karena polivinyl chloride bukanlah satu-satunya bahan yang mengandung atom klor disekitar kita. Bahkan terlalu banyak bahan-bahan disekitar kita yang mengandung atom klor, misalnya garam dapur (sehingga semua sampah makanan mengandung atom klor), kayu, daun, rumput, dan lain-lain, yang kalau dibakar, semuanya berpotensi menghasilkan dioxin. Dan sebenarnya dioksin memang ada dimana-mana, hampir semua tubuh manusia di dunia ini pun sudah mengandung kadar dioksin. Ini dikarenakan begitu banyaknya sumber dioksin disekitar kita. Jadi kalau hanya polivinyl chloride yang dipersalahkan sebagai sumber dioksin, itu adalah sangat tidak tepat.

Demikian sedikit informasi yang bisa ditambahkan berkenaan dengan artikel yang dimuat di harian ini beberapa waktu yang lalu.

Hormat saya,
Dr.Indratmoko Hari Poerwanto

Asia Pacific Vinyl Network (APVN – Indonesia)
E-mail: indratmoko@asc.co.id



130 Tahun PVC
20 September 2007, 11:29 am
Filed under: Umum

Walau pertama kali ditemukan pada tahun 1872, ketika secara tak sengaja orang menemukan serbuk putih dalam botol berisi gas vinil klorida yang terekspos oleh sinar Matahari, orang harus menunggu 54 tahun berikutnya hingga ditemukannya teknik pemanfaatan polivinil klorida, serbuk putih yang biasa disebut PVC itu. Usaha pemanfaatan PVC pada awalnya banyak menemui jalan buntu karena sifatnya yang mudah rusak jika dipanaskan padahal pemanasan merupakan cara pengolahan yang paling logis, mengikuti analogi pengolahan besi, gelas serta beberapa bahan polimer organik yang ketika itu sudah ditemukan. Pada tahun 1926, seorang peneliti pada perusahaan ban BFGoodyear dalam usaha mencari formulasi lem untuk merekatkan karet ke logam menemukan bahan elastomer thermoplastik pertama di dunia (bahan elastis yang dapat diubah bentuknya jika dipanaskan) ketika memanaskan PVC dalam cairan tricresyl phosphate atau dalam dibutyl phthalate. Yang terjadi adalah bahwa PVC dapat bercampur secara sempurna (miscible) dengan masing-masing zat yang kemudian lazim disebut sebagai plasticizer itu, menghasilkan bahan baru dengan sifat yang dapat direkayasa, mulai dari yang keras, ketika hanya sedikit plasticizer dicampurkan dengan PVC, hingga yang sangat elastis, ketika komponen terbesar dalam campuran itu adalah plasticizer . Terobosan teknis ini merupakan awal dari revolusi penggunaan PVC sebagai commodity plastics, yang melibatkan penggunaan plasticizer (misalnya tricresyl phosphate atau dibutyl phthalate seperti dalam kisah diatas) guna mempermudah pemrosesannya serta memberinya sifat elastis yang cocok untuk berbagai aplikasi seperti kulit imitasi, plastik untuk alas meja, dan sebagainya. Terobosan teknis kedua berupa berkembangnya teknologi formulasi PVC dengan penggunaan zat-zat yang lazim disebut stabilizer, processing aid dan sebagainya, dan yang tak kalah penting, perkembangan teknologi mesin pemroses PVC sehingga dimungkinkan pemrosesan PVC tanpa kandungan plasticizer (rigid application). Kini mayoritas penggunaan PVC adalah pada aplikasi tanpa plasticizer tersebut terutama di bidang konstruksi, seperti berbagai jenis pipa untuk air bersih maupun untuk air limbah domestik, pembungkus (isolator) berbagai macam kabel, jendela, lantai, pelapis dinding (wall paper) dan sebagainya, serta porsi yang jauh lebih kecil untuk produk-produk botol plastik, plastik pembungkus dan sebagainya. Bisa dibilang PVC merupakan bahan plastik yang paling luwes karena dapat diformulasi dan diproses menjadi produk dengan sifat yang sangat berbeda, mulai dari yang paling keras seperti pipa, hingga yang lunak dan fleksibel.

Bagaimana PVC Dibuat?

PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama: minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat, termasuk etilena ( C2H4 ), sementara garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium hidroksida (NaOH) dan gas klor (Cl2). Etilena kemudian direaksikan dengan gas klor menghasilkan etilena diklorida (CH2Cl-CH2Cl). Proses cracking/pemecahan molekul etilena diklorida menghasilkan gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam klorida (HCl). Akhirnya, melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul yang disebut monomer, dalam hal ini vinil klorida) dihasilkan molekul raksasa dengan rantai panjang (polimer): polivinil klorida (PVC), yang berupa bubuk halus berwarna putih. Masih diperlukan satu langkah lagi untuk mengubah resin PVC menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat.

Penampakan resin PVC sangat mirip dengan tepung terigu. Dan resin PVC memang dapat dianalogikan seperti tepung terigu: keduanya tidak dapat digunakan dalam bentuk aslinya. Seperti halnya tepung terigu yang harus diolah dengan mencampurkan berbagai kandungan lain hingga menjadi kue tart dan berbagai jenis roti yang menarik, resin PVC juga harus diolah dengan mencampurkan berbagai jenis zat aditif hingga dapat menjadi berbagai jenis produk yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Pemrosesan Menjadi Produk Akhir

Satu tahap penting lagi sebelum resin PVC bisa ditransformasikan menjadi berbagai produk akhir adalah pembuatan compound/adonan (compounding). Compound adalah resin PVC yang telah dicampur dengan berbagai aditif yang masing-masing memiliki fungsi tertentu, sehingga siap untuk diproses menjadi produk jadi dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sifat-sifat yang dituju meliputi warna, kefleksibelan bahan, ketahanan terhadap sinar ultra violet (bahan polimer/plastik cenderung rusak jika terpapar oleh sinar ultra violet yang terdapat pada cahaya matahari), kekuatan mekanik transparansi, dan lain-lain. PVC dapat direkayasa hingga bersifat keras untuk aplikasi-aplikasi seperti pipa dan botol plastik, lentur dan tahan gesek seperti pada produk sol sepatu, hingga bersifat fleksibel/lentur dan relatif tipis seperti aplikasi untuk wall paper dan kulit imitasi. PVC dapat juga direkayasa sehingga tahan panas dan tahan cuaca untuk penggunaan di alam terbuka. Dengan segala keluwesannya, PVC cocok untuk jenis produk yang nyaris tak terbatas dan setiap compound PVC dibuat untuk memenuhi kriteria suatu produk akhir tertentu.

Compound PVC kemudian dapat diproses dengan berbagai cara untuk memenuhi ratusan jenis penggunaan yang berbeda, misalnya:

  • PVC dapat diekstrusi, artinya dipanaskan dan dialirkan melalui suatu cetakan berbagai bentuk, sehingga dihasilkan produk memanjang yang profilnya mengikuti bentuk cerakan tersebut, misalnya produk pipa, kabel dan lain-lain.
  • PVC juga dapat di lelehkan dan disuntikkan (cetak-injeksi) ke dalam suatu ruang cetakan tiga dimensi untuk menghasilkan produk seperti botol, dash board, housing bagi produk-produk elektronik seperti TV, computer, monitor dll.
  • Proses kalendering menghasilkan produk berupa film dan lembaran dengan berbagai tingkat ketebalan, biasanya dipakai untuk produk alas lantai, wall paper , dll.
  • Dalam teknik cetak-tiup (blow molding), lelehan PVC ditiup di dalam suatu cetakan sehingga membentuk produk botol, misalnya.
  • Resin PVC yang terdispersi dalam larutan juga dapat digunakan sebagai bahan pelapis/coating, misalnya untuk lapisan bawah karpet dll.

 

PVC dan Lingkungan Hidup

Telah menjadi mitos bahwa khususnya pembakaran sampah PVC memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya dioxin. Dioxin dapat dihasilkan dari pembakaran bahan-bahan organoklorin, yang sebenarnya banyak terdapat di alam (dedaunan, pepohonan). Suatu penelitian yang dilakukan oleh New York Energy Research and Development Authority pada tahun 1987 menyimpulkan bahwa ada atau tidaknya sampah PVC tidak berpengaruh terhadap banyaknya dioxin yang dihasilkan dalam proses insinerasi/pembakaran sampah. Kontribusi terbesar bagi terjadinya dioxin adalah kebakaran hutan, hal yang justru tidak banyak diekspos.

Kandungan klor (Cl) dalam PVC diketahui memberikan sifat-sifat yang unik bagi bahan ini. Tidak seperti umumnya bahan plastik yang merupakan 100% turunan dari minyak bumi, sekitar 50% berat PVC adalah dari komponen klor-nya, yang menjadikannya sebagai bahan plastik yang paling sedikit mengkonsumsi minyak bumi dalam proses pembuatannya. Relatif rendahnya komponen minyak bumi dalam PVC menjadikannya secara ekonomis lebih tahan terhadap krisis minyak bumi yang akan terjadi di masa datang serta menjadikannya sebagai salah satu bahan yang paling ramah lingkungan.

Walaupun PVC merupakan bahan plastik dengan volume pemakaian kedua terbesar di dunia, sampah padat di negara-negara maju yang paling banyak menggunakan PVC-pun hanya mengandung 0,5% PVC. Hal ini dikarenakan volume pemakaian terbesar PVC adalah untuk aplikasi-aplikasi berumur panjang, seperti pipa dan kabel. Sampah PVC juga dapat diolah secara konvensional, seperti daur-ulang, ditanam dan dibakar dalam insinerator (termasuk pembakaran untuk menghasilkan energi).

PVC juga dianggap menguntungkan untuk aplikasi sebagai pembungkus (packaging). Suatu studi pada tahun 1992 tentang pengkajian daur-hidup berbagai pembungkus/wadah dari gelas, kertas kardus, kertas serta berbagai jenis bahan plastik termasuk PVC menyimpulkan bahwa PVC ternyata merupakan bahan yang memerlukan energi produksi terendah, emisi karbon dioksida terendah, serta konsumsi bahan bakar dan bahan baku terendah diantara bahan plastik lainnya. Bahkan sebuah kelompok pecinta lingkungan Norwegia, Bellona, menyimpulkan bahwa pengurangan penggunaan bahan PVC secara umum akan memperburuk kualitas lingkungan hidup.

(Indratmoko)

 



Sejarah Singkat Bahan Plastik
20 September 2007, 11:28 am
Filed under: Umum

Manusia sejak dulu telah berusaha untuk mengembangkan bahan-bahan buatan (sintetik) yang diharapkan dapat memberikan sifat-sifat unggul yang tidak didapatkan dari bahan-bahan alami yang ada disekitarnya.Bahan plastic buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di awal abad ke-21 jenis bahan ini telah ada disekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan yang sangat beragam.

Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan plastic yang pertama-tama dikembangkan. Bahan ini ditemukan oleh Alexander Parkes dipertengahan abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada suatu Pameran Akbar di London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola billiard. Pada tahun 1869 John Wesley Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate ini lebih lanjut dengan cara mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama Celluloid. Bahan ini menjadi sangat popular digunakan pada produk-produk sisir rambut, kancing pakaian dan gagang pisau.

Pada era awal ini, bahan-bahan polimer baru dikembangkan melalui proses modifikasi kimiawi dari bahan polimer alami, dimana bahan rayon (di kenal juga sebagai sutera buatan) merupakan contoh yang paling terkenal. Bahan rayon yang tergolong sebagai bahan semi-sintetik ini dibuat dari bahan dasar selulosa yang dimodifikasi secara kimiawi dan hingga saat ini masih digunakan pada produk-produk karpet, pakaian dan dapat pula diproses menjadi lembaran yang tansparan (cellophane).

Salah satu bahan sintetik yang pertama kali dikembangkan adalah Bakelite, yang ditemukan oleh Leo Baekeland pada tahun 1909. Bakelite adalah bahan yang saat ini popular dengan nama Phenol formaldehyde, dibuat dari phenol dan formaldehyde yang menghasilkan bahan polimer dengan sifat-sifat keras, ringan, kuat, tahan panas, dapat dicetak dan merupakan isolator listrik yang sangat baik, dan karenanya bahan ini banyak dipakai dalam berbagai aplikasi di industri listrik.

Bahan plastik terus mengalami perkembangan sepanjang tahun 1920-an dan 1930-an. Banyak bahan-bahan plastik yang baru dikembangkan ini kemudian digunakan pada Perang Dunia II, dan pada tahun 1050-an bahan-bahan ini telah hadir di rumah-rumah dalam berbagai jenis produk. Saat ini manusia sudah memasuki Era Plastik, dimana pada 50 tahun terakhir volume produksi plastik dunia telah meningkat secara luar biasa, sementara itu tingkat konsumsi bahan plastik telah meningkat dari sekitar satu juta ton pada tahun 1939 menjadi lebih dari 120 juta ton pada tahun 1994. Dewasa ini bahan plastic telah banyak menggantikan bahan-bahan tradisional seperti kayu, logam, gelas, kulit, kertas dan karet karena bahan plastic bias lebih ringan, lebih kuat, lebih tahan karat, lebih tahan terhadap iklim dan merupakan isolator listrik yang sangat baik. Bahan plastik sangat mudah dibentuk menjadi berbagai produk dengan menggunakan mesin cetak dan mesin ekstrusi. Sifat-sifatnya yang unggul dan kemudahan pemrosesannya seringkali menjadikan plastik sebagai bahan yang paling ekonomis untuk digunakan dalam berbagai keperluan. Kini bahan plastik digunakan dalam berbagai industri dan bisnis. Bahan ini telah memenuhi rumah-rumah kita, sekolah-sekolah, rumah sakit dan bahkan bahan ini ada dalam pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Banyak dari nama-nama bahan plastik telah menjadi istilah-istilah yang familiar dalam kehidupan sehari-hari: nylon, polyester, dan PVC, misalnya.

(Indratmoko)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.